"Biar Deket Terus": Praktik Kohabitasi di Kalangan Generasi Muda Jakarta
Faurizti Aisha Sajida Iskandar, Dr. Suzie Handajani, M.A.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Kohabitasi merupakan praktik tinggal bersama dalam satu atap tanpa adanya ikatan pernikahan. Praktik ini memiliki nilai yang negatif karena tidak sesuai dengan sosio-kultural yang ada di Indonesia. Akhir-akhir ini, kohabitasi mulai ramai diperbincangkan kembali di media sosial saat terdapat pasal baru yang mengatur hal tersebut. Melalui hal tersebut, tujuan dari skripsi ini adalah untuk mengetahui bagaimana praktik kohabitasi tetap dapat dilakukan di tengah kondisi sosio-kultural tersebut. Selain itu, praktik kohabitasi yang tersebar di berbagai negara menunjukkan bagaimana praktik ini dipandang berbeda-beda oleh individu yang menjalaninya. Sehingga, skripsi ini juga bertujuan untuk melihat sebagai apa para informan memandang praktik kohabitasi.
Penelitian ini dilakukan pada bulan November sampai Desember tahun 2024 menggunakan metode in-depth interview dengan tujuh informan yang didapatkan melalui snowball sampling. Lokasi penelitian ini berada di Jakarta, hal ini dikarenakan praktik kohabitasi dapat disebut sebagai fenomena perkotaan. Analisis data dilakukan menggunakan hasil dari in- depth interview dengan menglompokkan jawaban-jawaban para informan yang memiliki pola yang sama. Dari hasil pengelompokkan tersebut dapat ditarik kesimpulan terhadap apa yang disampaikan oleh para informan secara sistematis.
Dari pengambilan data melalui in-depth interview, menunjukkan para informan menempuh lika-liku yang ada karena masih terdapat anggapan tabu terhadap praktik kohabitasi. Para informan melakukan berbagai strategi untuk dapat memenuhi keinginan berkohabitasi dengan pasangannya, hal ini bertujuan untuk menghindari konflik dengan lingkaran sosial dan lingkungan tempat tinggal mereka. Para informan memilih untuk berkohabitasi karena kohabitasi dianggap sebagai ruang yang dapat mengekspresikan cinta dalam bentuk keintiman emosional dan fisik.
Living together under one roof without marriage is known as cohabitation. Due to it’s incompatibility with Indonesia’s current socio-cultural context, this practice carries a negative value. Following the publication of a new article that regulating cohabitation, it has recently been widely discussed again on social media. Through this, the goal of this thesis is to find out how cohabitation can still be practiced in the midst of these socio-cultural conditions. Furthermore, the fact that cohabitation is practiced in various countries shows how this practice is viewed differently. Therefore, another goal of this thesis is to find out how the informants view cohabitation.
Seven informants were selected through snowball sampling for this study, which was conducted from November to December 2024 using the in-depth interview method. The location of this research is in Jakarta, as the practice of cohabitation can be described as an urban phenomenon. The results of the in-depth interviews carried out for data analysis by grouping the informants answers that shared similar patterns. This grouping outcomes made a result for conclusions that can be drawn systematically regarding what the informants expressed.
Since cohabitation is still taboo in Indonesia, the data collection through in- depth interviews shows that the informants had to navigate the current complexities. In order to fulfil their desire to live together with their partner and prevent conflict with their social circle also their neighborhood, the informants used a variety of strategies. Informants seen cohabitation as a space where love can manifest itself through emotional and physical intimacy.
Kata Kunci : kohabitasi, strategi, keintiman / cohabitation, strategies, intimacy