Kajian perkembangan kawasan sasaran pengembangan kota purworejo : Kasus Buriloka dan koridor Purworejo-Kutoarjo
Siti Fatimah, Drs. Irfan Yahya, M.S.; Drs. Joko Christanto, M.Sc.
1999 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAHPenulisan ini mengungkap perkembangan di daerah pinggiran (buriloka) Kota Purworejo dan koridor Purworejo-Kutoarjo. Perkembangan tersebut dipacu dengan adanya pembangunan jalan lingkar yang disertai relokasi fasilitas-fasilitas orde tinggi ke kawasan pengembangan kota. Kawasan pengembangan ini pada akhirnya mengalami perkembangan, serta pergeseran fungsi ke arah sektor non agraris. Namun perkembangan tersebut tidak merata untuk semua desa kota yang terletak di kawasan sasaran pengembangan. Adanya kesenjangan menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Kajian ini meliputi kajian terhadap konversi lahan pertanian ke arah non pertanian, dominasi perubahan penggunaan lahan non pertanian, tingkat kekotaan yang ditunjukkan oleh fasilitas-fasilitas kekotaan orde tinggi dan fenomena kekotaan lainnya. Disamping itu juga dilihat faktor yang mempengaruhi arah perkembangan kota. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik purposive sampling, yang penentuan samplenya disesuaikan dengan kebutuhan penelitian. Analisis untuk pembuktian hipotesis pertama adalah analisis statistik T-Test, kemudian untuk hipotetis kedua dengan menggunakan deskrepsi. Untuk pembuktian hipotesis ketiga menggunakan analisis pembobotan (weighting), analisis scalling, tipologi kuadran, indeks interaksi penduduk, dan keunggulan komparatif kawasan barat dan selatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kawasan sasaran pengembangan kota Purworejo telah mengalami perkembangan selama periode 1990-1998. Penggunaan lahan pertanian di kawasan pinggiran telah beralih ke penggunaan lahan non pertanian, dimana pembangunan fisik untuk kegiatan non pertanian tersebut telah menggusur lahan pertanian produktif. Perubahan antara penggunaan lahan pertanian ke non pertanian tidak begitu nyata, sehingga dapat dikatakan perkembangan yang terjadi masih lambat. Persentase terbesar mengarah pada perubahan penggunaan lahan permukiman yaitu 18,746% dari penggunaan lahan non pertanian seluruhnya. Tingkat urbanisasi desa-desa/kelurahan di kawasan pengembangan kota pada periode 1994-1998 menujukkan peningkatan kelas dibandingkan dengan periode 1990-1994 yaitu dengan ditunjukkan meningkatnya jumlah fasilitas kekotaan. Kelurahan yang mempunyai tingkat perkembangan tinggi hanya 2 kelurahan saja yaitu Kelurahan Kledungkradenan dan Desa Candisari. Kelurahan ini terletak di persimpangan jalur transportasi utama. Maka dapat disimpulkan bahwa daerah yang terletak pada simpul transportasi utama akan lebih berkembang dibandingkan daerah lainnya karena daerah simpul ini berasosiasi dengan tingkat perkembangan yang tinggi. Sementara itu arah perkembangan kota lebih tinggi ke barat karena didukung faktor keunggulan relatif kawasan barat dibanding kawasan selatan.
-
Kata Kunci : Pengembangan kota,Purworejo,Jawa Tengah