PENGARUH UMUR DAN TINGGI PEMOTONGAN PERTAMA TERHADAP MORFOLOGI, KANDUNGAN SERAT DAN KECERNAAN IN-VITRO PADA PERTUMBUHAN KEMBALI TANAMAN OROK-OROK (Crotalaria juncea L.)
Danil Herdi, Prof. Dr. Ir. Bambang Suhartanto, DEA., IPU.; Prof. Ir. Nafiatul Umami, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Peternakan
Penelitian bertujuan untuk mengetahui morfologi, kandungan
serat dan kecernaan in-vitro pada pertumbuhan kembali (regrowth) ke-1 tanaman orok-orok (Crotalaria
juncea L.) yang dipotong pada umur dan tinggi pemotongan pertama yang
berbeda. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 3 x 3 yang
terdiri dari umur pemotongan (6, 7, 8 minggu) dan tinggi pemotongan pertama
(15, 30, 45 cm), masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga
diperoleh 27 plot. Materi dan metode penelitian berupa seperangkat alat dan
bahan untuk analisis morfologi, kandungan serat dan kecernaan in-vitro
serta biji orok-orok. Tahapan penelitian dimulai dari persiapan dan penanaman,
pemeliharaan, pemotongan pendahuluan, pengukuran morfologi tanaman, pemotongan
dan pengukuran hasil, preparasi sampel dan analisis kandungan serat and kecernaan
in-vitro. Variabel yang diamati meliputi morfologi tanaman (panjang
daun, lebar daun dan diameter batang), kandungan serat neutral detergent
fiber (NDF) dan acid detergent fiber (ADF) dan kecernaan in-vitro
bahan kering (BK) dan bahan organik (BO). Data penelitian dianalisis
menggunakan analysis of variance
(ANOVA) dilanjutkan dengan uji duncan’s
multiple range test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur
pemotongan 6 minggu memberikan hasil terbaik (P<0>in-vitro
pada pertumbuhan kembali tanaman orok-orok (Crotalaria juncea L.).
This study aimed to evaluate the
morphology, fiber content, and in-vitro digestibility of the first
regrowth of sunn hemp (Crotalaria juncea L.) subjected to different
initial cutting ages and heights. A 3 × 3 factorial experiment was arranged in
a completely randomized design, consisting of cutting age (6, 7, and 8 weeks)
and initial cutting height (15, 30, and 45 cm). Each treatment was replicated
three times, resulting in 27 plots. The research materials and methods included
a set of instruments and reagents for morphological, fiber content, and
in-vitro digestibility analyses, as well as sunn hemp seeds. The experimental
procedure consisted of preparation and planting, maintenance, preliminary
cutting, measurement of plant morphology, harvesting and yield measurement,
sample preparation, and analysis of fiber content and in-vitro digestibility. The
observed variables included plant morphology (leaf length, leaf width, and stem
diameter), fiber fractions neutral detergent fiber (NDF) and acid detergent
fiber (ADF), and in-vitro digestibility dry matter (DM) and organic
matter (OM). Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by
Duncan’s multiple range test (DMRT). The results showed that a cutting age of 6
weeks produced the most favorable outcomes (P < 0>in-vitro DM
digestibility (49.26% and 82.42%, respectively), as well as stem and leaf in-vitro
OM digestibility (46.44% and 76.90%, respectively). A cutting height of 15 cm
resulted in the best values (P < 0>in-vitro digestibility in the regrowth of
sunn hemp (Crotalaria juncea L.).
Kata Kunci : Crotalaria juncea L, Umur Pemotongan Pertama, Pertumbuhan Kembali, Morfologi, Kandungan Serat, Kecernaan In-Vitro