Kajian perkembangan tanah pada beting gisik antara sungai Progo dan sungai Cokroyasan
Budi Prasetyo, Drs. Jamulya, M.S.; Drs. Sunarto, M.S.
1995 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANPenelitian ini dilakukan pada daerah pantai antara Sungai Progo dan Sungai Cokroyasan, yang meliputi dalam dus wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Kulon Progo (DIY) dan Kabupaten Purworedjo (Jaws Tengah). Luan keseluruhan lebih kurang 36 ka dengan panjang garis pantai 36 km. Tujuan penelitian adalah mengetahui tingkat perkemba ngan tanah pada beting gisik, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi, dan mengetahui kaitan antara material lahan buritan dengan proses perkembangan tanah daerah penelitian. Metode penelitian bersifat eksplorasi dengan penentuan sampel secara purposive aline sampling. Pendekatan yang dilakukan adalah melalui studi makromorfologi, mikromorfo-logi dan mineralogi tanah. Data yang dihimpun kemudian di-analisis secara statistik, deskriptif dan komparatif. Hasil yang diperoleh melalui kajian makromorfologi yaitu terjadi peningkatan sifat-sifat tanah menuju lahan lahan butiran meliputi: kandungan bahan organik, Kapasiatas Pertukaran Kation, kandungan lempung porositas tanah, struktur menggumpal, konsistensi lekat. Sifat yang mengalami penurunan yaitu kandungan pasir, reaksi tanah dan indeks warns Hurst. Faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan tanah yaitu peran organisme, ditandai oleh hubungan yang erat antara bahan organik dan lempung (r=0,69). Terdapat pula hubungan yang erat antara bahan organik dan lempung terhadap KPE (r=0,68), dengan signifikani 95%. Terdapat hubungan positif antara kandungan bahan orga-nik dan KPK terhadap jarak dari pantai (r=0.84). Hal ini menunjukkan bahwa semakin ke lahan buritan tanah semakn berkembang. adspun perkembangan tanah sejajar garis pantai adalah setarap. Melalui kajian mikromorfologi diperoleh kajian perken bangan tanah yang semakin lanjut ditandai dengan peningka tan kandungan plasma, pedotubule, glasubule, fecal pellet dan humiskel, sedangkan penurunan terjadi pada jumlah butir skeleton dan pori tanah. Melalui kajian tersebut didapatkan pula pola hubungan distribusi yaitu granuler pada beting ginik muda, berangsur menjadi interextic dan porphyroskelic menuju satuan beting gisik tua. Berdasarkan kajian mineralogi tanah diperoleh kenimpul-an bahwa bahan induk berpengaruh terhadap proses pembentukan warna yang kemerahan atau kecoklatan. Hal ini disebabkan oleh berlimpahnya oksida besi (Hematit dan Magnetit) serta mineral Augit yang cenderung memberikan warna merah pada tanah. Material tersebut tidak banyak memberikan tingkat perkembangan tanah daerah penelitian, terbukti oleh perkembangan tanah yang setarap sejajar garis pantai. Tingkat perkembangan tanah yang dicapai adalah tahap initial pada beting gisik muda, tahap yuvenil pada beting disik dewans dan swale, sedangkan beting gisik tus mencapai tahap perkembangan hingga viril.
-
Kata Kunci : Konservasi tanah;Perkembangan tanah,Beting gisik,Kulonprogo,DIY,Purwodadi,Purworejo,Jawa tengah