Laporkan Masalah

Ketimpangan perkembangan sosial ekonomi di kabupaten Brebes propinsi Jawa Tengah

Moh. Izzat, Drs. Sujali, M.S.; Drs. Joko Christanto, M.Sc.

2000 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAH

Penelitian dengan judul "Ketimpangan Perkembangan Sosial Ekonomi di Kabupaten Brebes Propinsi Jawa Tengah" ini didasarkan pada adanya fenomena ketimpangan wilayah khususnya ketimpangan sosial ekonomi. Hal ini merupakan permasalahan mendasarkan dalam proses pembangunan yang dapat menimbulkan kecemburuan antar wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat ketimpangan sosial ekonomi dan faktor yang mempengaruhinya. Identifikasi tingkat ketimpangan wilayah di Kabupaten Brebes didasarkan pada data sekunder. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi tingkat ketimpangan yaitu Koefisien Gini dan Indeks Williamson. Kedua formula tersebut digunakan untuk mengidentifikasi tingkat ketimpangan ekonomi, padahal faktor penyebab ketimpangan tidak hanya faktor ekonomi akan tetapi juga faktor non ekonomi. Keterlibatan kedua faktor tersebut digunakan metode scoring untuk mengidentifikasinya yang didasarkan pada profil wilayah... Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini yaitu bahwa telah terjadi perubahan pertumbuhan ekonomi yang sangat drastis pada Kecamatan Paguyangan dan Kecamatan Bulakamba. Kedua kecamatan ini saling berlawanan pertumbuhannya dimana Kecamatan Paguyangan pertumbuhan ekonomi cenderung naik pesat, sedangkan Kecamatan Bulakamba cenderung sebaliknya. Perkembangan wilayah yang pesat terjadi pada kecamatan-kecamatan di SWP III, hal ini terlihat pada klasifikasi Klassen Typologi. Tingkat ketimpangan ekonomi di Kabupaten Brebes baik dalam lingkup kabupaten ataupun lingkup kecamatan menunjukan indek ketimpangan yang rendah, akan tetapi menunjukan peningkatan tiap tahunnya. Tingkat ketimpangan berdasarkan profil wilayah dalam lingkup Kabupaten Brebes menunjukan rata-rata tingkat ketimpangannya masih dalam klasifikasi tinggi. Hal ini diindikasikan dengan 11 kecamatan yang masuk dalam klasifikasi tersebut, dan sebagian besar terletak pada SWP II dengan 75% wilayahnya masuk dalam klasifikasi tinggi, kemudian disusul oleh SWP III dan SWP Ib. Faktor yang mempengaruhi pendapatan per kapita sebagai indikator ketimpangan yaitu pendapatan di sektor sekunder dan tersier yang merupakan faktor yang dapat meningkatkan pendapatan per kapita, dan kepadatan penduduk, jumlah tenaga kerja pertanian merupakan faktor yang sebaliknya. Upaya untuk mengurangi ketimpangan tersebut dapat dilakukan dengan mengoptimalisasikan kegiatan di sektor basis sebagai stimulan peningkatan ekonomi daerah. Oleh karena tiap daerah mempunyai kegiatan sektor basis yang berbeda dan lebih daalam memenuhi kebutuhan lokal maka perlu adanya integrasi sektoral sebagai salah satu upaya untuk pemenuhan kebutuhan suatu sektor. Integrasi sektortal dapat memberikan motivasi terhadap perkembangan suatu sektor dan munculnya sektor baru yang diminati oleh daerah. Keberhasilan dalam pelaksanaan strategi pembangunan sangat tergantung pada dukungan unsur pembangunan yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat.

This research titled "The Gap of Social Economy Development in Brebes Regency Province of Central Java". This research based, that area gap especially social economic gap was based problem in development process, where it could made area jealousy. This research was proposed to identity the gap level and factor that affect it. Moreover, this research tries to provide strategy to be used in local government's consideration while planning local development policies. Using secondary data did identification of the area gap in Brebes and the method were "Gini Coefficient" and "Williamson Index". Those two formulas tend to be more economical, so that the area gap identified was also the economic gap, whereas cause of the gap was also include non economic factor. Both of these sector also involved, researcher used scoring method in identification based on area profiles. The researcher found out that there's drastic economic growth in Paguyangan and Bulakamba districts that has contrary in it. Economic growth of Paguyangan district's tend increased while Bulakamba's decreased in the year 1997/1998, based on constant rate. The increased growth tends to happen in district classified as SWP III, and this was showed in "Classen Typology" classification. The economic gap in regency or district level was low, but gap's index showed increase each year. The gap level in Brebes area based on area profile showed that the gap level was still in high category. This condition indicated when 11 district were included in that category and most of them were in SWP II with 75% of its area were in high category, followed by SWP III and SWP Ib. Factor which affect income per capita as gap indicator were income in secondary and tertiary sector that were factors can increase income, and people density, worker quantity in agriculture were contrary in it.. Effort to decrease area gap were optimization in basic sector's program as stimulant local economic growth. Because each area has different basic sector's program and more capacity to fulfill local needed, so sectored integration was needed as one of the effort to fulfill one sector's needed. Sectored integration can motivate one sector's development and the existence of new sector desired by local people. Success in carrying development strategy depend on government, private sector's, and people.

Kata Kunci : Perkembangan ekonomi,Brebes,jawa Tengah

  1. S1-2000-101172-Moh_Izzat-abstract.PDF  
  2. S1-2000-101172-Moh_Izzat-bibliography.PDF  
  3. S1-2000-101172-Moh_Izzat-tableofcontent.PDF  
  4. S1-2000-101172-Moh_Izzat-title.PDF