Pengendalian Fusarium oxysporum Penyebab Penyakit Moler pada Bawang Merah (Allium cepa L.) dengan Jamur Mikoriza (Rhizophagus aggregatus) dan Chaetomium globosum
Aura Dwipuspita Sahara Firdaus, Prof. Rina Sri Kasiamdari, S.Si., Ph.D.
2025 | Skripsi | BIOLOGI
Menurunnya produksi bawang merah dapat dikarenakan berbagai faktor, salah satunya adalah serangan patogen. Patogen yang sering menyerang bawang merah adalah Fusarium oxysporum penyebab penyakit moler. Jamur endofit Chaetomium globosum dan Rhizophagus aggregatus berpotensi menggantikan penggunaan pupuk sintetis dalam menekan serangan patogen pada bawang merah serta meningkatkan pertumbuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas C. globosum dan R. aggregatus dalam menghambat patogen F. oxysporum pada tanaman bawang merah. Metode yang dilakukan penelitian ini meliputi, karakterisasi sampel F. oxysporum yang diisolasi dari bawang merah berpenyakit di Kulon Progo, karakterisasi C. globosum yang diambil dari InaCC, uji Postulat Koch, uji dual culture secara in vitro dan uji efektivitas secara in vivo. Penelitian dilakukan di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Data dianalisis statistik dengan uji ANOVA serta uji DMRT. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa F. oxysporum merupakan patogen penyebab penyakit pada bawang merah, yang ditandai dengan adanya makrokonidia, mikrokonidia serta klamidospora. Hal tersebut dibuktikan pada uji Postulat Koch pada bawang merah selama 14 HSI mengalami kematian. Uji in vitro menunjukan interaksi antara C. globosum dengan F. oxysporum memiliki persentase daya hambat 48,8%, dengan mekanisme antibiosis. Pada uji in vivo perlakuan konsorsium antara R. aggregatus dengan C. globosum pada tekanan infeksi F. oxysporum dapat meningkatkan jumlah daun, berat basah dan kering dari tajuk serta akar, dibandingkan inokulasi tunggal. Inokulasi konsorsium dari R. aggregatus dengan C. globosum dapat menurunkan infeksi penyakit F. oxysporum sebesar 96,01%. Sehingga C. globosum dan R. aggregatus berpengaruh dalam pertumbuhan bawang merah serta dapat melawan patogen penyebab penyakit moler pada bawang merah.
Yield loss in shallots (Allium cepa L.) can be caused by various factors, one of which is pathogen infection. The common pathogen infecting shallots is Fusarium oxysporum, the causative agent of fusarium wilt disease. The endophytic fungi Chaetomium globosum and Rhizophagus aggregatus have the potential to replace synthetic fertilizers in suppressing pathogen attacks on shallots and enhancing their growth. This study aims to evaluate the effectiveness of C. globosum and R. aggregatus in inhibiting F. oxysporum in shallot plants. The methods employed include characterization of F. oxysporum isolates obtained from diseased shallots in Kulon Progo, characterization of C. globosum sourced from InaCC, Koch’s postulate test, in vitro dual culture assay, and in vivo efficacy testing. The research was conducted at the Faculty of Biology, Gadjah Mada University. Data were statistically analyzed using ANOVA and DMRT tests. The results demonstrate that F. oxysporum is the pathogen causing disease in shallots, as evidenced by the presence of macroconidia, microconidia, and chlamydospores. Koch’s postulate test confirmed shallot mortality at 14 days post-inoculation. The in vitro assay showed that interaction between C. globosum and F. oxysporum resulted in a 48.8% inhibition rate through antibiosis mechanisms. The In vivo assay showed, consortium treatment of R. aggregatus with C. globosum under F. oxysporum infection increased leaf count, fresh and dry biomass of shoots and roots compared to single inoculation. Consortium inoculation reduced F. oxysporum disease infection by 96.01%. These findings demonstrate that C. globosum and R. aggregatus significantly contribute to shallot growth promotion and suppression of moler disease caused by F. oxysporum.
Kata Kunci : Allium cepa L., Biokontrol, Chaetomium globosum, Fusarium oxysporum, Rhizophagus aggregatus.