PEMETAAN RISIKO TANAH LONGSOR DI KECAMATAN SAMIGALUH, KABUPATEN KULON PROGO, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA MENGGUNAKAN ANALISIS SPASIAL
Faisal Afdhan Kurniawan, Dr. Eng. Ir. Agung Setianto, ST, M.Si., IPM.
2025 | Skripsi | TEKNIK GEOLOGI
Indonesia merupakan negara yang sangat rentan terhadap ancaman
geologi, termasuk tanah longsor. Sebagai negara yang kaya akan sumber daya
geologi dan memiliki bentang alam yang beragam, Indonesia juga menanggung beban
sebagai salah satu negara dengan tingkat bencana tertinggi di dunia. Terletak
pada kawasan Cincin Api Pasifik dengan curah hujan tinggi serta morfologi
terjal, Indonesia sering mengalami ancaman geologi, khususnya tanah longsor.
Bencana ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda,
tetapi juga mengancam pembangunan pedesaan serta perencanaan tata ruang di
wilayah rawan. Salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi adalah
Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang
dipengaruhi oleh formasi geologi vulkanik dan kondisi topografi yang kompleks.
Menghadapi ancaman yang terus berulang, diperlukan penilaian risiko bencana
yang akurat, terukur, dan efisien guna mendukung upaya mitigasi serta
perencanaan pembangunan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk
memetakan zona risiko tanah longsor di Kecamatan Samigaluh melalui penerapan
teknik analisis spasial dengan memanfaatkan Data Elevasi Nasional (DEMNAS) dan
metode Frequency Ratio. Parameter
morfometri dan hidrologi yang digunakan meliputi kemiringan lereng, aspek, Normalized
Difference Moisture Index (NDMI), Topographic Wetness Index (TWI),
dan Stream Power Index (SPI). Indeks risiko longsor diperoleh dari integrasi
indeks ancaman, kerentanan, dan kapasitas sesuai dengan pedoman Peraturan BNPB
No. 2 Tahun 2012. Hasil penelitian ini berupa peta zonasi risiko tanah longsor
yang berfungsi sebagai alat strategis untuk perencanaan mitigasi bencana daerah
serta pengelolaan tata guna lahan yang berkelanjutan. Hasil
analisis divalidasi menggunakan peta aktivitas longsor dengan lebih dari 50
zona longsor aktif. Akurasi
model risiko diuji melalui verifikasi lapangan dan analisis Area Under the
Curve (AUC). Hasilnya menegaskan bahwa integrasi data geospasial dan metode
penginderaan jauh memberikan pendekatan yang kuat dan hemat biaya dalam menilai
serta mengelola risiko tanah longsor di wilayah rawan bencana.
Landslides are among the most frequent and destructive
geological hazards in Indonesia, primarily caused by the country’s complex
tectonic setting, steep volcanic topography, and high rainfall intensity.
Samigaluh District in Kulon Progo Regency, Yogyakarta Special Region, is
particularly vulnerable due to its volcanic formations, weathered rock units,
and rugged terrain. This study aims to delineate landslide risk zones in
Samigaluh by integrating geological and geomorphological parameters through
spatial analysis using Geographic Information Systems (GIS) and the Frequency
Ratio (FR) method. The National Digital Elevation Model (DEMNAS) was utilized
to derive morphometric and hydrological parameters, including slope, aspect,
Topographic Wetness Index (TWI), and Stream Power Index (SPI). These parameters
were combined with geological, land use, and structural data to construct a
comprehensive landslide hazard model. Unlike previous studies that primarily
focused on descriptive analyses or limited village-scale mapping, this research
introduces a more integrated spatial approach by incorporating multiple
morphometric indices (slope, aspect, SPI, and TWI) derived from DEMNAS with
improved validation through field observations and AUC accuracy testing. The
method enhances the efficiency and reliability of hazard mapping compared to
earlier models applied in Kulon Progo, which often lacked multi-parameter
integration or systematic validation. Hazard, vulnerability, and capacity
indices were integrated in accordance with the Indonesian National Disaster
Management Agency (BNPB) Regulation No. 2 of 2012 to generate a detailed
landslide risk zonation map. The results reveal that areas with steep slopes,
highly weathered volcanic rocks, and dense settlements exhibit the highest risk
levels.This study demonstrates that combining remote sensing, geospatial
analysis, and field validation provides an effective and cost-efficient
framework for regional-scale landslide risk assessment and supports sustainable
disaster mitigation planning in mountainous regions.
Kata Kunci : Landslide risk mapping, spatial analysis, DEMNAS, Frequency Ratio, , hazard assessment, remote sensing