Laporkan Masalah

Kegiatan ekonomi rumah tangga non pertanian di Perdesaan (Studi kasus di Desa Girirejo Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta)

Atik Waluyo, Prof.Dr. Ida Bagoes Mantra

2000 | Tesis | S2 Kependudukan

INTISARI Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi menyebabkan terhadap tekanan penduduk dan tekanan pemilikan lahan pertanian yang tersedia semakin besar. Sebagai akibatnya adalah meningkatnya proporsi penduduk perdesaan yang tidak memiliki lahan. Di samping faktor produksi tanah yang semakin menyusut, faktor alam yang tidak mendukung untuk usaha pertanian, menimbulkan kecenderungan lebih banyak pekerja tertarik pada peluang kerja di sektor non perta-nian. Sampel yang dipilih dalam penelitian ini sebanyak 100 kepala rumah tangga non pertanian, teknik dasar pengambil-an sampel tersebut dilakukan dengan cara simple random sampling. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi responden dengan kegiatan yang dilakukan digunakan tabula-si silang dan uji statistik Kai-Kuadrat. rendah tang-Sema-perta-Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin angka rata-rata pemilikan lahan pertanian per rumah ga, semakin besar tekanan terhadap lahan pertanian. kin terbuka peluang kerja non pertanian dengan tingkat pendapatan yang tinggi rumah tangga cenderung untuk mela-kukan kegiatan ganda di sektor non pertanian atau pindah pekerjaan. Dilihat dari aspek pendapatan. rumah tangga dengan pendidikan tinggi memiliki pendapatan non nian yang lebih tinggi daripada yang berpendidikan rendah. Sedangkan sumbangan pertanian terhadap pendapatan rumah tangga non pertanian per bulan yang diterima berki-sar antara Rp 200.000 Rp 300.000 dengan angka rata-rata Rp 252.390. pendapatan ini lebih tinggi dari angka kebutu-han fisik minimum untuk DIY tahun 1997. Dengan demikian pendapatan rumah tangga non pertanian di perdesaan relatif cukup tinggi dan diharapkan mampu meningkatkan kesejah-teraan hidup masyarakat perdesaan. non Dari analisis secara umum dapat disimpulkan bahwa sektor non pertanian, dilihat dari segi penghasilan dan jumlah penyerapan pekerja, dapat diharapkan sebagai tum-puan hidup rumah tangga.

ABSTRACT High population growth has an implication on population pressure on agricultural activities. It will effect on labor surplus in agriculture and, in turn, will stimulate the increase in non-agricultural activities. This research in aiming at understanding the factors behind the reason why people involve in non-agricultural activities. There are 100 respondents, consisting of heads of household, which are selected proportionally based on random sampling technique. Cross tabulation method is used to analyze factors influencing respondent activities. The result of the study shows that the lower the average number of agriculture land choosing per household, the higher the stress on agriculture land. The wider availability of work opportunity outside agriculture fields. From income aspect, the households to change their profession from agricultural fields. From income aspect, the households with higher education have higher income than those with lower education. Whereas the income contribution from non-agricultural sector spans between Rp 200,000 Rp 300,000 with the average of Rp 252,390. This income is higher than the minimal physical needs for DIY region in 1997. The non-agricultural household income in villages is, therefore, relatively high and it is hoped that it would be capable of giving welfare for the village people. In general, it can be concluded that, from the condition of the study area, the migration in non-agricultural labors to other sectors could be expected as the household sustainability. Keyword: agricultural sectors, non-agricultural sector, employee, household

Kata Kunci : Sektor pertanian, sektor non-pertanian, karyawan, rumah tangga

  1. S2-2000-7475-Abstract.pdf  
  2. S2-2000-7475-Bibliography.pdf  
  3. S2-2000-7475-TableofContent.pdf  
  4. S2-2000-7475-Title.pdf