Perilaku pemenuhan pangan rumah tangga miskin di Jawa Kasus Kedungmiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Agus Indiyanto, Dr. Irwan Abdullah
2000 | Tesis | S2 KependudukanINTISARI Studi kasus ini dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap interaksi antara produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi pangan pokok pada tingkat rumah tangga. Penelitian ini dilaksanakan di Kedungmiri, sebuah pedusunan lahan kering di DIY. Ketahanan pangan rumah tangga dalam hal ini tidak hanya dipandang sebagai fungsi dari penawaran dan permintaan bahan pangan pokok akan tetapi juga pada persoalan akses terhadap distribusi dan pertukaran bahan pangan pokok. Oleh karena itu, rumah tangga akan mengalami kondisi kerawanan pangan jika pendapatan yang diperoleh anggota rumah tangga sangat rendah, dan/atau mereka mereka tidak memiliki akses yang cukup untuk memperoleh bahan pangan yang murah dalam jumlah yang cukup. Pertanyaan utama yang dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana penduduk Kedungmiri merespons keterbatasan lingkungan dalam produksi bahan pangan dan kondisi krisis ekonomi untuk mempertahankan kondisi ketahanan pangan. Penelitian ini juga menjelaskan dampak krisis ekonomi terutama mengenai akses terhadap pertukaran bahan pangan. Berbagai upaya yang dilakukan rumah tangga untuk mengamankan akses terhadap pemenuhan kebutuhan pangan menjadi fokus utama penelitian ini. Penelitian ini menggunakan dua metode pokok, yaitu metode survei dan metode wawancara mendalam. Metode survei digunakan untuk menjaring pola dan determinan tingkat insekuritas pangan di Kedungmiri. Sedangkan metode wawancara mendalam lebih difokuskan untuk mengetahui konsepsi lokal tentang insekuritas pangan dan strategi pengamanan pangan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan tampak bahwa penduduk Kedungmiri menggunakan istilah abstrak 'wareg' untuk mewakili konsep kerawanan pangan. Namun, berbagai variabel yang meliputi penguasaan akses terhadap pendapatan dan tabungan rumah tangga yang diajukan ternyata tidak memiliki pengaruh terhadap kondisi kerawanan pangan di Kedungmiri. Kondisi krisis ekonomi yang ditempatkan sebagai momentum pergeseran entitlement sejalan dengan hilangnya matapencaharian di sektor nonfarm ternyata tidak secara langsung menyebabkan penduduk merasa insecure/tidak terjamin. Pada tahap awal penduduk Kedungmiri hanya merasa terkejut dan mulai mengeluh tentang harga-harga sembako yang naik dengan cepat. Kemudian jika kondisi memburuk, mereka mulai berpikir tentang kelangsungan pemenuhan kebutuhan pangan harian dan mempraktikkan strategi berbasis pada sumberdaya alam dan hubungan-hubungan sosial yang tersedia. Berdasar hasil wawancara, ketahanan pangan rumah tangga di Kedungmiri berbasis pada tiga hubungan. Pertama, hubungan intra-rumah tangga yang menekankan dinamika pendapatan dan konsumsi anggota rumah tangga. Kedua, hubungan pertetanggaan. Ketiga, hubungan bisnis murni dengan warung yang banyak dilakukan penduduk karena membebaskan mereka dari tekanan sosial-psikologis.
ABSTRACT Household food security is not merely a function of the supply of and demand for basic foodstuffs, but equally important is access to distribution and exchange of food. Accordingly, household might get into food insecurity if the income of the household members are very low, and/or if they do not have access to cheap basic foods. This study is meant to get a better understanding of the interplay between production, distribution, exchange, and consumption regarding the supply and demand of basic food at the household level. The research has been carried out in Kedungmiri, a dry-land area in Yogyakarta. The data shows the people in Kedungmiri have their own way of expressing their condition. To refer to the concept of food security they use an abstract term of 'wareg'. Various variables, including access to income and savings, which is presumed as main factors, have not significant influence to the household food insecurity. The ongoing economic crisis, which is viewed as momentum of entitlement shifts along with the lost of non-farm income, in fact do not really push them down to the feeling of food insecurity. In the first stage people of Kedungmiri have just got shocked and started to complain about the increasing prices. When the situation became worse they just started to think how to fulfill daily food demand. Then, they created strategies based on the available resources and relationships. The household food security strategies in Kedungmiri are related to three important interactions. Firstly, intra-household interaction that highlights interaction among individual members within households. The dynamics of individual members' income and food consumption patterns are dominantly colored the household food strategies in order to meet wareg standard. Secondly, neighborhood relationship. Borrowing, both money and rice in small scale, became new trends among the wives along with the crisis. Thirdly, people prefer to deal with the warungs in coping with daily food problems. This is because warungs offer more exact payment and release them from socio-psyological pressures. As long as people can pay well and keep their trustworthiness, this relationship will sustain.
Kata Kunci : pemenuhan pangan, rumah tangga miskin, Kedungmiri