Laporkan Masalah

Hubungan antara litologi dengan laus pada mata air di pulau Jawa

Ardina Purbo, Drs. Soenarso Simoen

1985 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Mataair di Pulau Jawa merupakan salah satu potensi airtanah yang cukup berarti. Karena itu penelitian yang dilakukan terhadap mataair akan dapat bermanfaat bagi pe- ngembangan sumberdaya air untuk berbagai keperluan. Penyebaran serta luah mataair yang muncul di tiap da- erah di Pulau Jawa sangat beragam, tergantung kondisi dae- rahnya. Dilihat dari sebaran mataairnya, daerah yang ber- batuan gunungapi memiliki jauh lebih banyak mataair dari- pada yang batuannya lain. Ternyata pula daerah dengan cu- rah hujan sama tetapi batuannya berbeda memiliki luah yang berbeda pada mataair-mataair di masing-masing daerahnya. Tujuan penelitian ini adalah mencari hubungan antara litologi dengan luah mataair terbesar yang dapat muncul di daerah-daerah di Pulau Jawa. Selain itu juga akan dicari hubungan antara umur batuan dengan luah mataair. Hubungan litologi-luah tersebut akan diperkuat dengan analisa hu- bungan curah hujan rata-rata tahunan terhadap luah mata- air. Cara yang digunakan dalam mencari hubungan di atas a- dalah analisa statistik dan analisa deskriptif dari data- data yang didapat. Hasil tersebut kemudian digeneralisasi untuk seluruh Pulau Jawa. Hasil yang didapat pada analisa hubungan antara lito- logi dengan luah mataair membuktikan hipotesis yang diaju- kan. Terdapat hubungan yang erat antara litologi dengan luah mataair terbesar yang dapat dicapai pada masing-ma- sing daerah. Harga koefisien korelasi tingkatnya 0,95. Analisa statistik hubungan umur batuan dengan luah mataair hanya dapat dilakukan terhadap batuan gunungapi. Hasil yang didapat sesuai dengan hipotesis. Makin tua su- atu batuan gunungapi, makin kecil luah mataair yang dapat muncul dari batuan tersebut. Harga koefisien korelasinya adalah 0,9. Analisa deskriptif yang dilakukan terhadap hubungan umur batuan dengan luah mataair pada batugamping menunjuk- kan penyimpangan dari hipotesis. Batugamping berumur Mio- sen memiliki luah mataair lebih besar daripada yang beru- mur Pliosen. Hal ini disebabkan dalam perkembangannya, ba- tugamping mengalami pelarutan sehingga kelulusannya justru bertambah dengan makin tuanya batuan. Dengan demikian ma- taair yang dihasilkan dapat bertambah besar. Analisa hubungan curah hujan terhadap luah mataair menunjukkan, daerah dengan curah hujan sama tetapi litolo- ginya berbeda dapat menunjukkan perbedaan luah yang nyata. Bahkan daerah dengan curah hujan lebih tinggi tetapi lito- loginya tidak mendukung, luah mataair yang keluar akan ke- cil. Hal tersebut memperkuat analisa hubungan litologi- luah yang menjadi tujuan penelitian. Dari analisa hubungan antara curah hujan terhadap lu- ah mataair juga didapat kenyataan, bahwa daerah berbatuan sama, yaitu endapan gunungapi muda dan curah hujan sama dapat memiliki jangkauan luah mataair yang berbeda. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh susunan kimia batuannya.

-

Kata Kunci : Litologi,Luah,Mataair,Pulau Jawa

  1. S1-1985-2281-abstract.pdf  
  2. S1-1985-2281-bibliography.pdf  
  3. S1-1985-2281-tableofcontent.pdf  
  4. S1-1985-2281-title.pdf