Laporkan Masalah

Persepsi masyarakat sekitar Candi Mendut, Pawon dan Borobudur terhadap upacara ritual Waisak

Bernadetta Budi Lestari, Dr. A.J. Suhardjo, M.A.

1996 | Tesis | S2 Geografi

INTISARI Terdapat ironisasi di daerah Mendut, Pawon, Borobudur dan Taman Wisata, dimana Upacara Ritual Waisak Nasional dilaksanakan, tetapi kenyataannya mayoritas masyarakatnya beragama Islam, Kristen dan Katolik. Yang beragama Budha hanya terdiri dari 5 orang yang semuanya adalah pendatang dan penghuni Vihara. Keadaan ini mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian ini dengan mengkaji" Perbedaan Persepsi Masyarakat di Sekitar Mendut, Pawon, Borobudur dan Taman Wisata terhadap Upacara Ritual Waisak serta Dampak Sosial Ekonominya bagi Masyarakat dan Perhotelan". Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pebedaan persepsi masyarakat berdasarkan lokasi, jenis kelamin, kelompok umur dan tingkat pendidikan; 2) perbedaan persepsi masyarakat berdasarkan Pengetahuan Waisak, Konsepsi Kehidupan budhis, Konsepsi Kehidupan bikhu, Waisak sebagai obyek wisata, dan Toleransi beragama terhadap lokasi; 3) besarnya tingkat pendapatan tambahan yang diperoleh bagi masyarakat dan perhotelan; 4) proses kemunculan kembali agama Budha di Indonesia pada umumnya dan di Kaloran khususnya. Daerah penelitian ini adalah sekitar candi Mendut, candi Pawon, candi Borobudur dan Taman Wisata. Dari masing-masing daerah penelitian diambil responden sebanyak 40 orang secara purporsive, dengan total responden 160 orang. Hal ini disebabkan karena tidak semua Rumah Tangga terlibat dalam partisipasi aktif pada perayaan upacara Ritual Waisak. Selain itu juga dilakukan Interview kepada beberapa tokoh masyarakat, baik di daerah penelitian maupun di Kaloran. Perluasan daerah penelitian ini sangat berguna dalam menambah wawasan peneliti tentang kehidupan Budhis. Peneliti adalah Observer tunggal dalam pendataan. Penganalisaan data penelitian ini digunakan analisa tabel frekuensi, analisa Tehnik Hoitt, perhitungan Chi Square dan analisa data secara diskriptif. Hasil penelitian ini: 1) Persepsi masyarakat berdasarkan lokasi, jenis kelamin, kelompok umur, dan tingkat pendidikan tidak memberikan dukungan terhadap teori yang ada, karena obyeknya bersifat keagamaan, walaupun demikian perbedaan persepsi berdasarkan lokasi masih tetap dapat dilihat dari nilai. 2) Persepsi terhadap Konsep-konsep Waisak diperoleh hasil yang sangat bervariasi antara masing-masing lokasi, dimana perbedaan itu dapat dilihat pada masing-masing nilai. 3) Pendapatan tambahan yang diterima masyarakat dari ivent Waisak per tahun: Mendut dan Taman Wisata (49%), Borobudur (3,1%), Pawon (2,4%). 4) Pendapatan tambahan bagi perhotelan. Pendapatan tambahan yang diterima perhotelan per tahun: 1) Houstel Pondok Tingal sebesar (55%). Hotel Bumi Shambara (44%), Hotel Rosita (30%), Losmen Barokhah (22,2%), Hotel Manohara (21%), Guest House Lotus (17%), Losmen Borobudur (13%), Losmen Melati dan Hotel Bhima Sakti masing-masing (10%). Adapun perkembangan agama Budha di Indonesia pada umumnya disebabkan oleh adanya kondisi politik penjajahan Belanda yang hanya memberikan kesempatan bagi kelompok Theosofi untuk menggali macam-macam agama pada saat itu. Sedang perkembangan agama Budha di Kaloran pada Tahun 1967 Budha di Kaloran dimunculkan kembali oleh anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) tingkat kecamatan.

-

Kata Kunci : Persepsi masyarakat, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Borobudur, upacara ritual Waisak

  1. S2-1996-5675-Abstract.pdf  
  2. S2-1996-5675-Bibliography.pdf  
  3. S2-1996-5675-TableofContent.pdf  
  4. S2-1996-5675-Title.pdf