Laporkan Masalah

Proses migrasi dan kehidupan sosial ekonomi orang Batak Toba di Pulau Diberut Kepulauan Mentawai

Bambang Rudito, Dr. Sjafri Sairin

1995 | Tesis | S2 Kependudukan

INTISARI Migrasi yang dilakukan oleh orang Batak Toba ke desa Maileppet di pulau Siberut kepulauan Mentawai pada dasarnya dipengaruhi oleh dua faktor, penarik dan pendorong. Pendorong yang ada adalah kepadatan penduduk di desa asal yang mengharuskan penduduk membuat kampung baru (Sosor) yang berarti memerlukan lahan yang kenyataannya sudah sempit, begitu juga dengan adanya lahan garapan yang semakin sempit dan ketergantungan penduduk dengan alam yang sangat kuat ditambah dengan kondisi lahan yang kurang subur. Semuanya itu menyebabkan penduduk mengambil keputusan untuk mencari lahan baru di luar daerahnya. Selain itu adanya kebiasaan secara adat untuk pergi merantau (Marjajo). Penarik yang ada adalah tersedianya lahan yang luas dan juga permukiman yang berupa rumah-rumah kosong (resettlement) dan juga lingkungan alam serta kekosongan kegiatan sosial ekonomi masyarakat asli di daerah tujuan. Perpindahan ini dikuatkan oleh sistem kekerabatan orang Batak Toba itu sendiri yang selalu menerima tidak hanya dari Batak Toba sendiri, tetapi juga dari suku bangsa Batak secara umum, seperti Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola, Mandailing. Kesamaan simbol yang diaktifkan dalam interaksi sosial menyebabkan munculnya solidaritas kesukuan yang ada dan membedakannya dengan kelompok lain. Adanya kemiripan dalam hal sistem kekerabatan dan juga kesamaan agama menyebabkan mereka dapat lebih mudah berinteraksi dengan suku bangsa Mentawai walaupun secara adat tetap berbeda dan dengan demikian dapat terjadi suatu penularan pengetahuan antar-mereka. Interaksi ini berkembang terus dalam arena-arena sosial lainnya sehingga terjadi suatu kerjasama yang saling menguntungkan dalam bidang sosial ekonomi terutama dalam pemenuhan kebutuhan dan penyediaannya. Akhirnya, pergerakan orang Batak Toba dari daerah asalnya di pedesaan di Sumatera Utara menuju daerah pedesaan di Kepulauan Mentawai yang lingkungan sosial budayanya relatif lebih tertinggal dibanding dengan masyarakat lainnya lebih cenderung didasari oleh keinginan orang Batak Toba tersebut untuk melebarkan daerah kebudayaannya (cultural area). Hal ini dikuatkan dengan tetap memakai adat kebiasaan Batak Toba di daerah yang ditempatinya, sehingga tergambar terjadinya kantung permukiman dengan adat istiadatnya (enclave)

ABSTRACT People of Batak Toba who migrate to Maileppet Village in Siberut island, Mentawai archipelago, naturally under influence of two factores, push and pull. Push factors are overpopulation in the rural areas to obligate for makes a new village (Sosor), means necessaries of land, environment, especially physical environment. Besides that cause, to go abroad as their customs (Marjoajo) can be push factors too. As full factors are free land in Mentawai, many empty haouse in resettlement, physical environment and integrated social economic action with Mentawai etnic. That migration followed with kinship system of Batak Toba, they always accept people not only from Batak Toba it self, but from Batak ethnic as generally like Karo, Pakpak, Simalungun, interaction within the same symbol of culture and is differentiate with other etchnic group. The likeness kinship system between Batak Toba and Mentawai and the same religion can easy to make social interaction to each other, although as custom is different. This interaction can make social economic relationship. Finally, the Batak Toba people moving form their village in North Sumatera to village in Siberut island with bachward society, in base on need of them for spread their culture area. This point is follow that Batak Toba people always using their culture is Siberut island and to result in create an enclave.

Kata Kunci : Migrasi, kehidupan sosial ekonomi, orang Batak Toba, Pulau Diberut

  1. S2-1995-4667-Abstract.pdf  
  2. S2-1995-4667-Bibliography.pdf  
  3. S2-1995-4667-TableofContent.pdf  
  4. S2-1995-4667-Title.pdf