Evaluasi pemanfaatan ruang terhadap rencana induk kota Kawasan Kraton-Malioboro Kodya Yogyakarta berdasarkan interpretasi foto udara
Agus Suryantoro, Prof.Drs. R. Bintarto
1990 | Tesis | S2 Penginderaan JauhINTISARI Kawasan Kraton-Malioboro merupakan satu kesatuan yang mempunyai arti sejarah serta fungsi yang khas dan penting bagi keberadaan Kota Yogyakarta. Dari semula kawasan Malioboro memang merupakan ruang kultural dalam artian ritual-seremonial bagi keberadaan Kraton Yogyakarta. Rencana Induk Kota Yogyakarta 1985-2005 tidak lepas dari rencana pemanfaatan ruang kawasan Kraton-Malioboro, namun pada kenyataannya masih banyak dijumpai penyimpangan pemanfaatan ruang di kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengkaji penyimpangan pemanfaatan ruang kawasan Kraton-Malioboro hasil interpretasi foto udara skala 1:11.000 tahun pemotretan 1987 dengan Peta Rencana Induk Kota yang telah disusun dengan variabel data kepadatan bangunan dan proporsi penyimpangan pemanfaatan ruang kawasan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan gabungan antara interpretasi foto udara dan kerja lapangan. Interpretasi foto udara untuk mengenali jenis pemanfaatan ruang per blok kawasan, dan kerja lapangan untuk mencocokkan hasil interpretasi dan menambah informasi yang dibutuhkan, dan penelitian ini juga mendasarkan pada Peta Rencana Induk Kota yang telah disusun. Hasil penelitian ini merupakan gambaran tentang kondisi pemanfaatan ruang di lapangan (hasil interpretasi) dan penyimpangan pemanfaatan ruang tersebut terhadap Rencana Induk Kota, proporsi penyimpangan per blok kawasan berkisar antara 10-78 persen, dan penyimpangan ini banyak terjadi pada jenis pemanfaatan ruang untuk permukiman yang seharusnya bukan diperuntukkan guna permukim-an, namun pada blok secara menyeluruh diperuntukkan guna permukiman justru tidak mengalami penyimpangan. Pemanfaatan ruang guna 'jalur hijau di sepanjang sisi Sungai Code dan Winongo yang direncanakan, kenyataan di lapangan tidak dijumpai jalur hijau', dengan proporsi penyimpangan 5-20 persen. Penyimpangan di atas 10 persen cenderung terjadi pada blok dengan kepadatan bangunan 20 persen lebih (klas menengah ke atas), dan kepadatan bangunan cenderung berkorelasi positif terhadap tingkat kepadatan penduduk per blok, yakni pada blok dengan kepadatan bangunan di atas 20 persen (klas menengah ke atas) menunjukkan tingkat kepadatan penduduk di atas 100 jiwa/Ha (klas rendah ke atas).
ABSTRACT This research is aimed at studying the misuse of the Kraton-Malioboro area as result of Air Photo Interpretation with the scale of 1:11,000 of 1987 with the Map of the City Master Plan which has been presented with data variabel of population density, building density and population and proportion of misussing the area. The method use in this research are Air photo interpreting and field work. Air Photo Interpretation was used to know the kinds of space use per block, and the field work used to complete information for the research. This research was also based on the Map of City Master Plan. The result of this research resembles the condition of space use and the misuse the City Master Plan. The proportion of misuse in every block is about 10 to 78 percent. The proportion of misuse is mostly for places which were planned for housing area. But in fact the places are not for housing. The area for green belt, which is planned to be the banks of Winongo and Code rivers, do not exist in reality, and the proportion of misuse ranges from 5 to 20 percent. Misuse above 10 per-cent tends to be found in area with the building density above 20 percent (middle-class to high-class). Finally, the building density tends to positively correlated with the population density of each block with building density above 20 percent (middle-class to high-class), having population density above 100 persons per acre (low-class to high-class).
Kata Kunci : Evaluasi pemanfaatan ruang, rencana induk kota, Kraton, Malioboro