Laporkan Masalah

Kajian kemandirian pelaksanaan keluarga berencana dan lingkungan sosial yang mempengaruhinya: pada daerah Gunung Kidul

Achmad Salim Djawas, Dr. A.J. Suhardjo, M.A.

1989 | Tesis | S2 Ilmu Lingkungan

INTISARI Penelitian ini bertujuan mengkaji sejauh mana perbedaan kemandirian akseptor keluarga berencana pada wilayah yang berbeda, dan lingkungan sosial yang mempengaruhinya. Metode penelitian yang diterapkan adalah kausal-komparatif dengan lokasi penelitian di Kabupaten Gunung Kidul yang dibagi menjadi tiga wilayah yaitu: Pegunungan Baturagung, Ledok Wonosari, Gunung Sewu. Dari tiap wilayah diambil satu kecamatan dan dari satu kecamatan diambil satu desa secara stratified purposive sampling didasarkan pada tingkat prevalensi tertinggi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terhadap 270 akseptor keluarga berencana sebagai responden dan dari tiap wilayah diambil 90 responden secara berimbang dengan maksud untuk membandingkan kemandirian akseptor pada ketiga wilayah. Disamping wawancara dilakukan pengamatan terhadap kondisi setempat, penelaahan data sekunder dan literatur. Analisis data ditujukan untuk menguji sejumlah hipotesis sesuai dengan tujuan penelitian. Pengujian perbedaan kemandirian akseptor pada berbagai daerah digunakan Analisa Varians. Aspek lingkungan sosial yang mempengaruhi kemandirian akseptor yaitu, pendidikan, komunikasi, pertemuan, kemudahan mencapai lokasi, pendapatan, dan kondisi sosial; dan pengujiannya menggunakan Analisa Tabel Silang dan Kai-kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hipotesis pertama dapat diterima dengan dukungan data yaitu ada perbedaan yang signifikan kemandirian akseptor di ketiga wilayah. Ledok Wonosari yang relatif datar dan subur sedikit lebih tinggi kemandiriannya dari Baturagung yang relatif tidak datar dan kurang subur, dan Baturagung kemandiriannya sedikit lebih tinggi dari Gunung Sewu yang relatif tidak datar dan tidak subur. Wilayah yang berbeda mempunyai hubungan yang positif dengan kemandirian akseptor; (2) hipotesis kedua tidak diterima di Ledok Wonosari dan Gunung Sewu, kecuali di Baturagung. Hubungan perbedaan pendidikan isteri, sentuhan komunikasi, dan penghasilan dengan kemandirian akseptor di Batur agung menun-jukkan adanya perbedaan yang signifikan (3) ada tanda-tanda bahwa kemandirian akseptor di Batur agung dapat dikembangkan lebih cepat, hal ini didukung dengan adanya penghasilan masyarakat yang lebih tinggi. Peningkatan respon masyarakat akan meningkatkan kemandirian akseptor keluarga berencana di Baturagung. Wilayah Gunung Sewu perbaikan mutu lahan dan penggunaan lahan yang sesuai dapat meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, dan akan meningkatkan kemandirian akseptor keluarga berencana.

ABSTRACT The objective of the research is to identify the difference of family-planning acceptors' self-propelling in the three regions and how far the social environment influence the acceptors self propelling. The research took place in Kabupaten Gunung Kidul, divided into 3 regions, i.e. Pegunungan Baturagung, Ledok Wonosari, Gunung Sewu and causal comparative method was applied. Samples were taken from a village of a "kecamatan" (sub-district) of a region with stratified purposive sampling based on the highest prevalence. The data colection is done by interviewing 270 respondent (the acceptors), 90 respondent in each region to enable to compare the acceptors self-propelling; by the observing the conditions and by discussing, secondary data and literatures. Data analysis were carried out to examine the hypotheses. Variance analysis was to examine acceptors' self propelling in the three regions. There are some aspects on the social environment influence the ?????tor's self-propelling, namely, education, communication, meetings, distance accessibility, income and social condition; is done by the Cross Column and Chi-square analysis. The result of the research showed that: (1) the first hypotheses is acceptable that there is a significant difference acceptors' self propelling in the three regions. Ledok Wonosari which is relatively flat and fertile has a bit higher self-propelling than the one in the Baturagung which is relatively less flat and less fertile, but the latter has a bit higher self-propelling than the one in the Gunung Sewu which is not flat and not fertile. The different region have a positive correlation with the acceptors' self-propelling (2) the second hypotheses are not acceptable, except in the Baturagung where wife's education, communication touch and income correlation the acceptors' self-propelling significantly (3) due to the higher income, the acceptors' self-propelling in the Baturagung could be improved faster. The better response the higher self-propelling. In the south the improvement of the quality of the lands of the appropriate land-uses can accelerate the economic activity which furthermore improves the acceptors self-propelling.

Kata Kunci : Pelaksanaan keluarga berencana, lingkungan sosial, Gunung Kidul

  1. S2-1989-2157-Abstract.pdf  
  2. S2-1989-2157-Bibliography.pdf  
  3. S2-1989-2157-TableofContent.pdf  
  4. S2-1989-2157-Title.pdf