Transformasi Digital Dalam Manajemen Data Sunting: Studi Kasus Penggunaan Aplikasi INZTING SULSEL
Fahmi Husain, Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, M.P.P.
2025 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
Inovasi digital di sektor publik seringkali menghadapi paradoks
antara keberhasilan fungsional dan kegagalan kelembagaan. Penelitian ini
menganalisis secara mendalam faktor-faktor penyebab diskontinuitas aplikasi
INZTING SULSEL, sebuah inovasi yang secara teknis berhasil namun pada akhirnya
dihentikan. Tesis ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi
kasus di Provinsi Sulawesi Selatan. Pengumpulan data dilakukan melalui
wawancara mendalam dengan para informan kunci, observasi langsung, dan analisis
dokumentasi kebijakan terkait. Seluruh analisis dibingkai dalam kerangka Technology-Organization-Environment
(TOE) untuk mengurai interaksi kausal yang kompleks di balik kegagalan inovasi
ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi Lingkungan eksternal menjadi faktor determinan. Volatilitas politik
akibat pergantian kepemimpinan menyebabkan hilangnya kemauan politik dan
penghentian anggaran. Rigiditas kebijakan nasional yang menolak
interoperabilitas dengan sistem e-PPGBM menciptakan "tembok
birokrasi" yang tidak dapat diatasi. Guncangan ini memperburuk kerapuhan
pada dimensi Organisasi, seperti
fondasi inovasi yang dangkal karena lahir sebagai "proyek perubahan"
individu, ego sektoral dari Dinas Kesehatan, serta model insentif yang gagal
memotivasi pelaksana di akar rumput. Pada akhirnya, kelemahan organisasi ini
melumpuhkan fungsionalitas Teknologi,
yang termanifestasi sebagai "beban kerja ganda" bagi pengguna dan
memicu resistensi. Kesimpulan akhir adalah bahwa kegagalan INZTING bukanlah
kegagalan teknologi, melainkan kegagalan tata kelola inovasi yang sistemik, di
mana faktor lingkungan menjadi pemicu utama yang tidak dapat diatasi oleh
struktur organisasi dan teknologi yang ada.
Digital innovation in the public sector often faces a paradox
between functional success and institutional failure. This study in-depth
analyzes the factors causing the discontinuity of the INZTING SULSEL
application, a technically successful innovation that was ultimately
discontinued. This thesis uses a qualitative method with a case study approach
in South Sulawesi Province. Data collection was conducted through in-depth
interviews with key informants, direct observation, and analysis of related
policy documentation. The entire analysis is framed within the Technology- Organization - Environment (TOE)
framework to unravel the complex causal interactions behind this innovation's
failure.
The results of the study indicate that the external environment dimension is a determining
factor. Political volatility due to changes in leadership led to a loss of
political will and budget cuts. The rigidity of national policies that rejected
interoperability with the e-PPGBM system created an insurmountable
"bureaucratic wall." This shock exacerbated fragility in the organizational dimension , such as the
shallow foundation of innovation because it was born as an individual
"change project," the sectoral ego of the Health Office, and an
incentive model that failed to motivate implementers at the grassroots level.
Ultimately, these organizational weaknesses paralyzed the functionality of the technology , which manifested as a
"double workload" for users and triggered resistance. The final
conclusion is that the failure of INZTING was not a failure of technology, but
rather a failure of systemic innovation governance , where environmental
factors were the main trigger that could not be overcome by existing
organizational structures and technologies.
Kata Kunci : Transformasi digital sektor publik, Technology-Organization-Environment (TOE) Framework, Inovasi digital manajemen data stunting, Aplikasi Inzting Sulsel