Mobilitas kepala keluarga pelaku mobilitas sirkuler untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga di daerah asal (kasus tukang becak di kotamadya Yogyakarta)
Ida Bagus Putra Atmaja, Drs. Alip Sontosudarmo, M.S.; Drs. R. Rijanta, M.Sc.
1995 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANKota Yogyakarta masih memberi kesempatan sektor informal untuk tumbuh berkembang seperti halnya pada pekerjaan tukang becak, hal tersebut menyebabkan perkembangannya semakin lama semakin meningkat. Perkembangan tersebut seiring dengan meningkatnya arus migrasi ke kota karena umumnya yang bekerja adalah kaum pendatang. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai aspek perilaku mobilitas yang berprofesi sebagai tukang becak di Kota Yogyakarta, terutama mengenai proses penyesuaian mereka di daerah tujuan. Responden dalam penelitian ini adalah kepala keluarga yang melakukan mobilitas ke Kotamadya Yogyakarta. Data dikumpuikan lewat wawancara dengan pelaku mobilitas sirkuler yang berjumlah 150 orang. Responden dipilih pada tempat-tempat yang banyak digunakan untuk mangkal tukang becak, yang keseluruhannya terdapat 8 tempat. Wawancara dilakukan secara terstruktur lewat kuesioner serta tidak terstruktur sebagai pendalaman pada aspek-aspek tertentu. Data dianalisis secara deskriptif, dan inferensial yang berupa analisis tabel frekuensi, analisis tabel silang, dan analisis korelasi product moment. Tukang becak pelaku mobilitas sirkuler di kota Yogyakarta berusia antara 30-40 tahun, walaupun berusia tua tetapi pada waktu pertama kali meninggalkan daerah asalnya rata-rata berusia muda (< 20 tahun) dengan tingkat pendidikan dan ketrampilan yang rendah. Pernyataan tersebut menunjukkan sering bergantinya pekerjaan sebelum menjadi tukang becak. Dalam penelitian ini terdapat hubungan yang erat antar dua hal tersebut, yaitu antara lama melakukan mobilitas dengan frekuensi berganti pekerjaan dari pelaku mobilitas tersebut. Keterikatan seorang pelaku mobilitas sirkuler terhadap daerah asalnya menyebabkan mereka senantiasa membantu pelaku mobilitas baru yang datang dari daerah asal yang sama. Hubungan positif yang cukup erat antara lama melakukan mobilitas dengan membantu pelaku mobilitas baru juga ditemukan dalam penelitian ini. Penelitian ini mengungkapkan hubungan positif antara jumlah penghasilan tukang becak pelaku mobilitas sirkuler dengan pengeluarannya. Fenomena tersebut berkaitan dengan pemakaiannya di kota, di samping penghasilannya yang termasuk rendah juga biaya hidup di kota yang relatif tinggi atau dapat dikatakan sebagian besar penghasilannya digunakan untuk kebutuhan hidup di kota. Penggunaan remitan di daerah asal menunjukkan bahwa kebanyakan digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Hal tersebut menunjukkan bahwa bekerja sebagai tukang becak belum dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup, karena kebutuhan hidupnya belum sepenuhnya terpenuhi, maka kondisi lainnya seperti perumahan, pendidikan dan lain sebagainya tentu belum terpenuhi dengan baik.
-
Kata Kunci : Perpindahan penduduk,Mobilitas Sirkuler,Kota Yogyakarta,DIY