OPTIMALISASI PEMANFAATAN LAHAN HUTAN POLA MANAGEMENT REGIME II DI BKPH CARUBAN (Studi Kasus Management Regime di KPH Madiun, Perum Perhutani Unit II, Jawa Timur)
Exwan Novianto, Dr. Ir. Wahyu Andayani, M.S.
2000 | Skripsi | S1 KEHUTANANPengelolaan hutan jati optimal yang disebut dengan istilah management regime merupakan sistem pengelolaan hutan yang diterapkan pada tingkat KPH untuk mengelola lahan hutan pada basis petak agar dapat diperhitungk:an secara variasi kondisi lokal, baik kondisi fisik maupun sosial ekonomi masyarakat sehingga diperoleh hasil yang maksimal. Management regime merupakan sistem pengelolaan hutan yang mmpunyai tujuan untuk mengoptimalkan pengelolaan hutan Jati, meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan, dan menjamin keberhasilan pengelolaan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi tanaman pada Pola Management Regime II yang memberikan pendapatan maksimal. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive di Petak 103 dan Petak 41g, BKPH Caruban, KPH Madiun. Pendapatan kotor tanaman diperoleh dengan menganalisa semua komponen input-output tanaman. Untuk mengetahui kombinasi tanaman yang memberikan pendapatan maksimal maka digunakan linear programming dengan fungsi tujuan memaksimalkan pendapatan dan fungsi kendala yang terdiri dari luas lahan, modal, dan tenaga kerja. Pendapatan maksimal yang diperoleh di Petak 103 RPH Kaliabu sebesar Rp 1.445.603,53/ha/th dengan menanam Jati seluas 4,59 ha, Mahoni seluas 1,43 ha, Lamtoro seluas 2,30 ha, Pilang seluas 0,18 ha, dan tanaman tumpangsari pola 4 (padi, kacang tanah, dan ubi kayu) seluas 8,5 ha. Kendala yang dihadapi adalah luas lahan. Pendapatan maksimal yang dapat diperoleh di Petak 41g RPH Blabakan sebesar Rp 1.025.518,46/ha/th dengan menanam Jati seluas 1,84 ha, Mahoni seluas 0,48 ha, Lamtoro seluas 0,92 ha, Pilang seluas 0,01 ha, tanaman tumpangsari pola 2 (padi, jagung, kacang hijau, dan ubi kayu) seluas 2,60 ha, dan lahan yang tidak ditanami seluas 0,65 hektar. Kendala yang dihadapi adalah luas lahan untuk tanaman kehutanan dan modal untuk tanaman tumpangsari. Dengan penerapan pola kombinasi optimal tersebut, pendapatan yang diperoleh di Petak 103 dan Petak 4 lg dapat meningkat berturut-turut sebesar Rp 421.568,81/ha/th dan Rp 104.152,06/ha/th.
Kata Kunci : optimalisasi, pendapatan, lahan, Management Regime II, Caruban