Kecemasan Pra-Nikah pada Perempuan Suku Bugis-Makassar dalam Konteks Budaya Uang Panai’
Hanifah Salsabila Firdausia, Prof. Drs. Subandi, M.A., Ph.D., Psikolog
2025 | Skripsi | PSIKOLOGI
Tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah untuk mengeksplorasi pengalaman kecemasan pra-nikah pada perempuan dewasa awal Suku Bugis-Makassar dalam konteks tradisi uang panai’. Penelitian ini berangkat dari fenomena bergesernya pemaknaan akan tradisi uang panai’ yang membawa tekanan budaya, ekspektasi keluarga, serta faktor sosial-ekonomi memiliki kontribusi signifikan terhadap munculnya kecemasan menjelang pernikahan pada perempuan. Hal ini dikarenakan penentuan nominal tradisi tersebut yang disesuaikan dengan status sosial yang dimiliki oleh perempuan. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur terhadap tiga partisipan yang dianalisis dengan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan menjadi emosi dominan yang dialami, disertai kebingungan, rasa takut, dan tekanan psikologis. Faktor utama pemicu kecemasan adalah ekspektasi keluarga besar, status sosial yang menaikkan nominal uang panai’, serta beban finansial yang berpotensi mengganggu kestabilan hubungan hingga pasca pernikahan. Dampak kecemasan tampak pada melemahnya ketahanan hubungan, kelelahan emosional, serta evaluasi ulang terhadap kesungguhan pasangan. Meski demikian, partisipan menunjukkan strategi koping berupa komunikasi dengan keluarga dan keinginan untuk mengakses konseling dengan psikolog pernikahan.
The aim of this qualitative study is to explore the experience of premarital anxiety among early adult women of the Bugis-Makassar ethnic group in the context of the uang panai’ tradition. This research is based on the phenomenon of the shifting meaning of uang panai’, where cultural pressure, family expectations, and socio-economic factors significantly contribute to the emergence of anxiety prior to marriage. This is due to the determination of the nominal value of the tradition, which is adjusted according to the woman’s social status. Data were obtained through semi-structured interviews with three participants and analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The findings indicate that anxiety is the dominant emotion, followed by confusion, fear, and psychological pressure. The main factors triggering anxiety include extended family expectations, social status that raises the nominal value of uang panai’, and financial burdens that potentially disrupt relationship stability even after marriage. The impact of this anxiety is reflected in the weakening of relationship resilience, emotional exhaustion, and the reevaluation of the partner’s commitment. Nevertheless, participants demonstrated coping strategies through communication with their families and a willingness to access counseling with a marriage psychologist.
Kata Kunci : kecemasan pra-nikah, perempuan, dewasa awal, tradisi uang panai’