Laporkan Masalah

Evaluasi penggunaan lahan daerah perbukitan dan pengaruhnya terhadap masalah lingkungan fisik di Kotamadya Ambon

Ahmad , Dr. Karmono Mangunsukardjo, M.Sc.

1997 | Tesis | S2 Ilmu Lingkungan

INTISARI Obyek penelitian ini ialah satuan lahan daerah perbukitan. Hal ini mengingat sebagian besar (86,4%) wilayah Kotamadya Ambon terdiri dari perbukitan dan gunung di dalamnya terdapat lembah-lembah yang curam serta aliran-aliran sungai sedangkan lahan datar hanya sekitar 13,6% itupun hanya di sekitar pesisir pantai. Akibat perkembangan pembangunan lahan-lahan tersebut akhir-akhir ini sebagian sudah digunakan sebagai pertanian ketela pohon, perkebunan cengkeh dan permukiman pada hal lahan-lahan tersebut sebagian besar tidak memenuhi syarat penggunaan. Jika diamati pada beberapa tahun terakhir ini di Kotamadya Ambon sering timbul masalah lingkungan fisik seperti banjir, erosi, gerak massa batuan dan sedimentasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian lahan pertanian ketela pohon, perkebunan cengkeh dan permukiman di daerah perbukitan dan pengaruhnya terhadap masalah lingkungan fisik seperti banjir, erosi, gerak massa batuan dan sedimentasi. Di samping itu juga untuk mengevaluasi lahan daerah perbukitan yang sesuai untuk arahan pengembangan permukiman di Kotamadya Ambon. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui pembacaan peta, interpretasi foto udara, penelitian lapangan dan analisis laboratorium. Analisis data kesesuaian lahan untuk lahan pertanian ketela pohon dan perkebunan cengkeh menggunakan metode faktor penghambat atau analisis hukum minimum. Untuk lahan permukiman dan arahan pengembangan permukiman menggunakan metode parametrik kualitas lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penggunaan lahan daerah perbukitan di Kotamadya Ambon tidak sesuai bagi peruntukannya atau masuk kelas jelek, karena dari 12343 ha lahan perbukitan yang sudah digunakan untuk pertanian ketela pohon, perkebunan cengkeh dan permukiman hanya 4696,02 ha (38,04%) yang masuk kelas sesuai atau baik selebihnya 7647,79 ha (61,79%) masuk kelas tidak sesuai atau jelek. Akibat penggunaan lahan perbukitan tidak sesuai atau kelas jelek dapat menimbulkan masalah lingkungan fisik seperti banjir, erosi, gerak massa batuan dan sedimentasi. Guna keperluan pengembangan permukiman, maka lahan daerah perbukitan kemiringan lereng maksimal 25% masih terdapat 3503,83 ha (13,03%) dari total luas lahan pertanian ketela pohon, perkebunan cengkeh dan hutan dapat digunakan sebagai pengembangan permukiman di Kotamadya Ambon.

ABSTRACT The object of this study was hilly area units. This was due to a large proportion (86.4%) of Ambon Municipality comprises of hilly and mountaneous areas, with steep valleys and streams, while flat terrain only 13.6% on the coastal regions. As the impact of development the lands are recently used as cultivation of cassava, and clove, and notably for settlement. If one inspects on these last years, Ambon has been facing some physical environment problems i.e., flood, erosion, mass movement and sedimentation. The purpose of current study was to evaluate suitability of land for cassava, clove and settlement in hilly areas, and to assess the impacts on physical environments cited above. Besides, the study tried to evaluate hilly areas that fit the direction of settlement development. Data in current research was obtained through map analyses, aerial photo interpretation, field check and laboratorium analyses. The analyses of land suitanbility for cassava and clove used constraint factors method. Analyses of land use for settlement employed parametric land quality method. The results showed that a larger proportion of land use in hilly areas in Ambon was not suitable because from 12,343 ha of hilly areas that had been used for cassava, clove and settlement there were only 4,696.02 ha (38.04%) that classified as suitable; the rest 7647.79 ha (61.79%) was unsuitable. The impacts of unsuitable land use were occurrence of physical environment problems i.e., flood, erosion, mass movement and sedimentation. The hilly areas with their maximum slope of 25% was suitable for settlement, because of total areas of 26,885.65 ha of cassava, clove and woods there was 13.03% classifiable as suitable.

Kata Kunci : Penggunaan lahan, Daerah Perbukitan

  1. S2-1997-7204-abstract.pdf  
  2. S2-1997-7204-bibliography.pdf  
  3. S2-1997-7204-tableofcontent.pdf  
  4. S2-1997-7204-title.pdf