Relasi Asimetris Nahdlatul Ulama dengan PKB dan PPP: Politisasi dan Dampaknya terhadap Struktur dan Kultur Organisasi NU di Kabupaten Wonosobo
Fairouza Nouruzzaman Hasani, Dr.rer.pol Mada Sukmajati , M.P.P
2025 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN
Penelitian ini mengkaji dinamika relasi antara Nahdlatul Ulama (NU) dengan dua partai politik berbasis Islam, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), di Kabupaten Wonosobo. Dengan menggunakan pendekatan teori collateral linkage dari Thomas Poguntke serta didukung oleh teori patronase, mobilisasi struktural, dan afeksi politik, penelitian ini menunjukkan bahwa relasi NU dengan PKB bersifat kuat, terstruktur, dan berkesinambungan (affiliated collateral), sedangkan hubungan NU dengan PPP bersifat lemah, tidak terkoordinasi, dan kultural belaka (independent collateral). Melalui metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, penelitian ini juga menemukan bahwa politisasi NU melalui PKB telah berdampak signifikan terhadap struktur organisasi NU di tingkat PCNU, MWCNU, PRNU, hingga badan otonom seperti GP Ansor dan Muslimat NU. Politisasi ini berlangsung dalam dua bentuk: relasi formal melalui rangkap jabatan elite NU sebagai aktor partai, serta relasi informal melalui konsolidasi elektoral dalam pengajian, haul, dan kegiatan sosial-keagamaan lainnya. Temuan ini merefleksikan adanya pergeseran peran NU di level lokal, dari organisasi sosial-keagamaan menuju aktor politik kultural yang aktif, sekaligus menimbulkan dilema institusional terhadap komitmen NU pada Khittah 1926.
This study explores the dynamics of the relationship between Nahdlatul Ulama (NU) and two Islamic-based political parties, the National Awakening Party (PKB) and the United Development Party (PPP), in Wonosobo Regency. Employing the collateral linkage framework proposed by Thomas Poguntke, supported by theories of patronage, structural mobilization, and political affect, this study finds that NU maintains a strong, structured, and continuous relationship with PKB (affiliated collateral), while its connection with PPP is weak, uncoordinated, and merely cultural (independent collateral). Using a qualitative descriptive method with data collected through in-depth interviews, field observations, and document analysis, this study also reveals that the politicization of NU through PKB has significantly affected NU’s organizational structure at the levels of PCNU, MWCNU, PRNU, and its autonomous bodies such as GP Ansor and Muslimat NU. This politicization manifests in two forms: formal ties through dual-role elite actors, and informal electoral mobilization through religious and community-based events. These findings reflect a shift in NU’s local role—from a socio-religious institution to an active cultural political actor—while also raising institutional dilemmas regarding NU’s long-standing commitment to the Khittah 1926 principle.
Kata Kunci : Nahdlatul Ulama, PKB, PPP, politisasi, collateral linkage, Wonosobo