Respon Biomassa Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) pada Dosis Pupuk dengan Metode Irigasi Kabut dan Sprinkler pada Lahan Pasir Pantai Bantul
Elva Maulida Khozana, Dr. Ir. Murtiningrum, S.T.P.,M.Eng.,IPM., ASEAN Eng ; Muhamad Khoiru Zaki, S.P.,M.P.,Ph.D.,IPM
2025 | Skripsi | TEKNIK PERTANIAN
Lahan pantai merupakan lahan
marginal dengan kandungan nutrisi yang rendah. Namun, lahan pantai memiliki potensi besar untuk dikembangkan
sebagai lahan pertanian apabila dikelola dengan teknik budidaya yang tepat,
seperti penambahan amandemen pada tanah dan penerapan sistem irigasi. Penelitian ini
bertujuan mengetahui pengaruh dosis pupuk kotoran hewan dan sistem irigasi
(kabut dan sprinkler) terhadap pertumbuhan tanaman sawi (Brassica juncea L.)
di lahan pasiran pantai, Bantul, Yogyakarta. Penelitian dilakukan dalam dua
periode penanaman dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Parameter yang
diukur meliputi pengukuran tinggi tanaman, jumlah daun, kandungan klorofil,
luas permukaan daun, bukaan stomata, serta biomassa basah dan kering (AGB dan
BGB). Hasil menunjukkan bahwa irigasi kabut lebih efektif dibandingkan
sprinkler, menghasilkan tinggi tanaman yang lebih signifikan (17.29-19.03 cm
pada penanaman kedua), luas daun yang lebih besar, serta biomassa yang lebih
tinggi. Irigasi kabut juga meningkatkan bukaan stomata pada penanaman pertama,
mendukung proses fisiologis tanaman. Dosis pupuk kotoran hewan menunjukkan
variasi pengaruh antar periode. Pada penanaman pertama, dosis pupuk berpengaruh
signifikan terhadap luas daun, bukaan stomata, dan biomassa, tetapi pada
penanaman kedua, hanya tinggi tanaman dan bukaan stomata yang terpengaruh. Interaksi antara irigasi dan dosis pupuk signifikan pada penanaman
pertama, tetapi tidak pada penanaman kedua. Kondisi iklim mikro lahan pasiran
juga mempengaruhi respons tanaman.dari hasil tersebut, irigasi kabut
direkomendasikan untuk meningkatkan pertumbuhan sawi di lahan pasiran,
sementara dosis pupuk kotoran hewan perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan
dan sistem irigasi untuk hasil optimal.
Coastal land is typically considered marginal due to
its low nutrient content. However, coastal land has great potential for agricultural
development if managed with appropriate cultivation techniques, such as soil amendments
and irrigation management. This study
aimed to evaluate the effects of animal manure fertilizer doses and irrigation
systems (fog and sprinkler) on the growth of mustard greens (Brassica juncea
L.) cultivated in coastal sandy land, Bantul, Yogyakarta. The experiment was
conducted over two planting periods using a Randomized Complete Block Design (RCBD).
The measured parameters included plant height, number of leaves, chlorophyll
content, leaf surface area, stomatal aperture, and wet and dry biomass (above-ground
biomass [AGB] and below-ground biomass [BGB]). The results showed that fog
irrigation was more effective than sprinkler irrigation, resulting significantly
higher plant height (17.29-19.03 cm in the second planting), larger leaf area,
and higher biomass. Fog irrigation also increased stomatal aperture in the
first planting, supporting plant physiological activity. The effect of animal
manure fertilizer dose varied effects between periods. In the first planting,
fertilizer dosage significantly affected leaf area, stomatal aperture, and
biomass, whereas in the second planting, only plant height and stomatal aperture
were significantly influenced. The interaction between irrigation system and
fertilizer dosage was significant in the first planting, but not in the second.
The microclimate conditions of sandy land also influenced plant response. Based
on these findings, fog irrigation is recommended to enhance the growth of mustard
greens in sandy land. The dosage of animal manure fertilizer should be adjusted
according to environmental conditions and the applied irrigation system to
achieve optimal results.
Kata Kunci : Brassica juncea L, Irigasi Kabut, Irigasi Sprinkler, Lahan Pasiran Pantai, Pertumbuhan Tanaman, Pupuk Kotoran Hewan.