Laporkan Masalah

Bencana Gunung Galunggung di Priangan, 1822-1824

Sabrina Putri Agustin, Dr. Mutiah Amini, M.Hum.

2025 | Skripsi | ILMU SEJARAH

Bencana erupsi Gunung Galunggung tahun 1822 yang terjadi di Priangan, tepatnya di perbatasan antara Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Limbangan menjadi salah satu peristiwa destruktif pada abad ke-19. Peristiwa ini pun kemudian dinyatakan sebagai sebuah bencana oleh Residen Priangan pada 1823 dalam laporannya karena dampaknya yang masif. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan mengenai rangkaian peristiwa letusan secara kronologis, dampaknya terhadap aspek sosial dan lingkungan sehingga menjadi sebuah bencana, serta upaya penanganannya yang dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat yang masih berlangsung hingga tahun 1824. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian sejarah dengan menggunakan sumber primer berupa arsip laporan, kajian, dan surat kabar, serta ditunjang oleh artikel-artikel pendukung. Bencana tersebut mengakibatkan korban jiwa sejumlah 4.011 orang dan 114 kampung mengalami kehancuran. Area persawahan serta sekitar 3 juta pohon kopi juga mengalami kerusakan ataupun kehancuran total. Bantuan medis serta sandang, pangan, dan papan diberikan untuk para korban. Penduduk setempat yang selamat juga turut bergotong-royong dalam upaya evakuasi serta penggarapan lahan pertaniannya kembali.

The 1822 eruption of Mount Galunggung in Priangan, precisely on the border between Sumedang Regency and Limbangan Regency, was one of the most destructive events of the 19th century. This event was later declared a disaster by the Resident of Priangan in his 1823 report due to its massive impact. This study aims to describe the chronological sequence of events surrounding the eruption, its impact on social and environmental aspects that ld to it becoming a disaster, and the efforts to deal with it by various levels of society that continued until 1824. The research method used is historical research using primary sources in the form of report archives, studies, and newspapers, supported by supporting articles. The disaster resulted in 4.011 fatalities and the destruction of 114 villages. Rice fields and around 3 million coffee trees were also damaged or completely destroyed. Medical assistance and clothing, food, and shelter were provided to the victims. The local survivors also worked together in the evacuation efforts and in recultivating their agricultural land.

Kata Kunci : Gunung Galunggung, erupsi, bencana alam, Priangan, kehancuran lingkungan, korban jiwa, Mount Galunggung, eruption, natural disaster, environmental destruction, casualties

  1. S1-2025-482852-abstract.pdf  
  2. S1-2025-482852-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-482852-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-482852-title.pdf