Laporkan Masalah

Pemanfaatan Angkatan kerja perempuan usia muda di propinsi DIY Analisis data Susenas tahun 1996

Herdiana Dewi Utari, Prof. Drs. Kasto, M.A.; Drs. Sukamdi, M.Sc.

1999 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Angkatan Kerja Perempuan Usia Muda (10-29 tahun) merupakan fenomena ketenagakerjaan yang menarik, karena pada kelompok penduduk inilah permasalahan ketengakerjaan sering muncul. Penelitian tentang 'Pemanfaatan Angkatan Kerja Perempuan Usia Muda Di Propinsi D.I Yogyakarta (Analisis Data Susenas 1996)' bertujuan untuk mengetahui: (1) Profil Angkatan Kerja Perempuan Usia Muda, (2) Pemanfaatan Angkatan Kerja Perempuan Usia Muda. Metode penelitian analisis dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Kantor Statistik D.I Yogyakarta berupa raw data Susenas 1996 (Kor). Dari 2278 sampel perempuan usia muda, yang dipergunakan 871 sampel dengan perincian 774 perempuan usia muda yang termasuk pekerja dan 97 sampel mencari pekerjaan. Analisa data dilakukan dengan tabel silang, analisis statistik Kai Kuadrat, serta analisis Mean Tables dan uji statistik Analysis of Variance (Anova). Hasil Penelitian menunjukkan, bahwa sebagian besar angkatan kerja perempuan usia muda berstatus lbelum kawin' dengan tingkat pendidikan rendah dan sedang. Dilihat dari kualitas ketenagakerjaannya relatif rendah, tampak dari APAK yang rendah (38,2) dan tingkat pengangguran terbuka yang relatif tinggi (11,1). Sebagian besar pekerja perempuan usia muda terserap pada sektor jasa (47,3°/0), dengan status pekerjaan didominasi sektor informal (57,8%) dan jenis pekerjaan tidak terampil (55,4°/0). Tingkat pendidikan perempuan usia muda sangat mempengaruhi perbedaan penyerapan pekerja perempuan menurut sektor, status dan jenis pekerjaan. Semakin tinggi tingkat pendidikan terdapat kecenderungan semakin tinggi proporsi pekerja perempuan usia muda yang terserap ke sektor jasa, jenis pekerjaan terampil dan sektor formal. Status Perkawinan tidak berpengaruh besar terhadap penyerapan angkatan kerja perempuan usia muda menurut lapangan, status dan jenis pekerjaan. Pembahasan mengenai pemanfaatan angkatan kerja perempuan usia muda berdasarkan jam kerja, diperoleh hasii bahwa secara keseluruhan pekerja perempuan usia muda sudah cukup dimanfaatkan (52,8%). Variabel status perkawinan tidak berpengaruh terhadap tingkat pemanfaatan pekerja, sedangkan variabel tingkat pendidikan mempengaruhi tingkat pemanfaatan, dimana semakin tinggi tingkat pendidikan seorang pekerja perempuan usia muda semakin cukup dimanfaatkan. Jika dilihat menurut lapangan, status dan jenis pekerjaan, maka pemanfaatan kurang terdapat pada sektor pertanian (77,0')/0), sektor informal (69,36%) dan jenis pekerjaan tidak terampil (63,5%). Analisis Mean Tables menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh variabel tingkat pendidikan terhadap tingkat pemanfaatan pekerja menurut jenis pekerjaan di D.1 Yogyakarta. Variasi antar Dati II, menunjukkan tiga tipikal kesempatan kerja dan tingkat pemanfaatan. Pertama, tipikal kabupaten Sleman dan Kotamadya Yogyakarta terlihat sebagian besar perempuan usia muda terserap ke sektor jasa, sektor formal dan jenis pekerjaan setengah terampil, dengan tingkat pemanfaatan pekerja yang cukup. Kedua, tipikal kabupaten Bantul tampak bahwa pekerja perempuan usia muda dominan di sektor manufaktur, sektor informal dan jenis pekerjaan tidak terampil, dengan tingkat pemanfaatan pekerja yang cukup. Ketiga, tipikal kabupaten Kulon Progo dan Gunung Kidui, pekerja perempuan usia muda terserap ke sektor pertanian, sektor informal dan jenis pekerjaan tidak terampil, dengan tingkat pemanfaatan pekerja kurang.

-

Kata Kunci : angkatan kerja wanita,DIY

  1. S1-1999-Herdiana_Dewi_Utari-abstract.PDF  
  2. S1-1999-Herdiana_Dewi_Utari-bibliography.PDF  
  3. S1-1999-Herdiana_Dewi_Utari-tableofcontent.PDF  
  4. S1-1999-Herdiana_Dewi_Utari-title.PDF