Laporkan Masalah

Perencanaan Urban Design Guidelines (UDGL) Kota Yogyakarta sebagai Kota Wisata dengan Konsep The City That Never Sleeps

Puella Oriana Salsabilla, Iwan Suharyanto, S.T., M.Sc.

2025 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Perencanaan Kota Yogyakarta yang dikembangkan melalui konsep The City That Never Sleeps dilatarbelakangi oleh semakin berkembangnya fenomena wisata malam yang hingga kini belum sepenuhnya terwadahi dalam kerangka tata ruang kota. Seiring upaya Yogyakarta memantapkan diri sebagai destinasi pariwisata budaya, inisiatif branding pemerintah kota melalui “Jogja Kota Festival” merepresentasikan ambisi untuk memperkuat identitas pariwisata berbasis budaya sekaligus mengakui peluang berkembangnya kehidupan kota pada malam hari. Namun, upaya tersebut belum diiringi oleh intervensi spasial dan infrastruktur yang memadai untuk menjamin aspek inklusivitas, keamanan, serta kesinambungan aktivitas perkotaan di waktu malam. Meskipun memiliki kekayaan budaya dan vitalitas siang hari yang kuat, identitas malam Yogyakarta masih belum terbentuk secara optimal akibat keterbatasan infrastruktur pendukung, pencahayaan dan aksesibilitas yang rendah, tata kelola yang terfragmentasi, serta ketiadaan kebijakan spasial yang mengatur atau mendorong aktivitas malam. Akibatnya, dinamika sosial dan ekonomi kota masih terpusat pada waktu siang hari, sementara potensi malam hari belum dimanfaatkan secara maksimal.

Untuk menjawab tantangan tersebut, perencanaan ini menggunakan Urban Design Guidelines (UDGL) sebagai instrumen strategis dan regulatif yang menjembatani perencanaan berskala makro dengan intervensi desain pada skala mikro. Pendekatan UDGL dirancang secara fleksibel, multi-skala, dan adaptif terhadap tipologi kawasan, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan karakter lokal, konteks sosial-budaya, dan morfologi ruang di setiap kawasan. Melalui strategi yang terintegrasi ini, pengembangan pariwisata malam di Yogyakarta diharapkan menjadi lebih inklusif dan selaras dengan identitasnya sebagai kota budaya. Pada akhirnya, perencanaan ini diharapkan mampu mewujudkan transformasi Yogyakarta menjadi kota malam yang hidup, dinamis, dan kreatif, yakni pusat budaya yang tetap menunjukkan vitalitasnya dan mampu beradaptasi terhadap tantangan serta peluang perkotaan masa kini.

The urban planning initiative for Yogyakarta City, developed under the concept of The City That Never Sleeps, emerges from the growing prominence of night-time tourism that has yet to be integrated into the city’s spatial framework. As Yogyakarta positions itself as a cultural tourism destination, the municipal government’s branding initiative, “Jogja Kota Festival,” reflects its ambition to strengthen culture-based tourism while recognizing the potential of night-time activities. However, this effort has not been supported by adequate spatial and infrastructural interventions to ensure inclusivity, safety, and continuity of urban life after dark. Despite its rich cultural assets and strong daytime vitality, Yogyakarta’s night-time identity remains underdeveloped due to limited infrastructure, poor illumination and accessibility, fragmented governance, and the absence of spatial policies regulating nocturnal activity. Consequently, economic and social vibrancy remain concentrated during daylight hours, leaving the night underutilized both socially and economically.

To address these challenges, the planning framework employs the Urban Design Guidelines (UDGL) as a strategic and regulatory tool that bridges macro-level planning and micro-level design interventions. The UDGL provides a flexible, multi-scalar, and typology-sensitive approach that adapts to each district’s local character, socio-cultural context, and spatial morphology. Through this integrated strategy, the development of Yogyakarta’s night tourism is expected to become more  inclusive and aligned with its identity as a cultural capital. Ultimately, this plan aims to transform Yogyakarta into a vibrant, creative, and dynamic night-time city, aligning with the broader goal of maintaining its reputation as a living cultural hub while adapting to contemporary urban challenges and opportunities.

Kata Kunci : wisata malam, the city that never sleeps, jogja kota festival, urban design guidelines, tipologi kawasan

  1. S1-2025-478079-abstract.pdf  
  2. S1-2025-478079-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-478079-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-478079-title.pdf