Sebaran Fraksi-fraksi Organomineral dalam Tanah di Berbagai Satuan Lereng pada Formasi Kebobutak, Kulon Progo
Septi Wulandari, Dr. Ir. Eko Hanudin, M.P., IPU, ASEAN Eng; Prof. Dr. Ir. Benito Heru Purwanto, M.P., M.Agr
2025 | Skripsi | ILMU TANAH
Bahan
organik tanah memiliki peranan yang sangat penting dalam memengaruhi sifat
fisik, kimia, dan biologi tanah. Bahan organik dalam tanah berada dalam
berbagai bentuk fraksi, salah satunya dapat membentuk kompleks dengan mineral
tanah. Pengompleksan bahan organik oleh berbagai macam bentuk mineral akan
berpengaruh terhadap waktu tinggal (residence time) senyawa tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi fraksi-fraksi
organomineral pada kedalaman tanah 0-20 cm dan 20-40 cm di berbagai lereng pada
formasi Kebobutak, Kulon Progo. Sampel
tanah diambil dari posisi puncak, lereng atas, lereng tengah, lereng bawah, dan
kaki lereng dengan masing-masing kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm. Parameter sifat
fisika dan kimia yang diukur meliputi berat volume, tekstur tanah, pH H2O,
pH KCl, KPK, C-organik, N-total, dan rasio C/N serta analisis fraksi
organomineral. Analisis data dilakukan
dengan uji Anova (Analysis of
Variance), uji lanjut Tukey, dan analisis regresi-korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi lereng
dan kedalaman tanah berpengaruh signifikan terhadap distribusi fraksi
organomineral tanah. Fraksi Fe oxyhydroxides-stabilized OM, Fe/Al-OM complexes,
dan carbonate-occluded OM mendominasi di sebagian besar posisi lereng
dan lebih tinggi pada kedalaman 0-20 cm dibandingkan 20-40 cm. Zona residu atau
deposisi (puncak, lereng tengah, dan kaki lereng) menunjukkan proses
stabilisasi bahan organik yang terikat kuat, sedangkan zona erosi (lereng atas
dan bawah) masih mengandung fraksi tersebut disertai peningkatkan fraksi
terikat lemah seperti weakly adsorbed OM dan water soluble OM. Hasil
ini menegaskan bahwa dinamika lereng dan kedalaman tanah berperan penting dalam
proses stabilisasi bahan organik dengan mineral tanah serta mendukung strategi
konservasi tanah untuk menjaga karbon organik dalam jangka panjang.
Soil
organic matter plays a crucial role in influencing the physical, chemical, and
biological properties of soils. In the soil system, organic matter exists in
various fractions, one of which can form complexes with soil minerals. The
complexation of organic matter by different types of minerals affects its
residence time in the soil. This study aims to determine the distribution of
organomineral fractions at depths of 0-20 cm and 20-40 cm across different
slope positions within the Kebobutak Formation, Kulon Progo. Soil samples were
collected from the summit, upper slope, middle slope, lower slope, and
footslope positions at depths of 0–20 cm and 20–40 cm. The measured physical
and chemical parameters included bulk density, soil texture, pH (H?O and KCl),
cation exchange capacity (CEC), organic carbon, total nitrogen, and C/N ratio,
along with organomineral fraction analysis. Data were analyzed using ANOVA
(Analysis of Variance), Tukey’s post-hoc test, and regression-correlation
analysis. The results showed that slope position and soil depth significantly
affected the distribution of organomineral fractions. The Fe
oxyhydroxide-stabilized OM, Fe/Al–OM complexes, and carbonate-occluded OM
fractions dominated most slope positions and were higher at the 0-20 cm depth compared
to the 20-40 cm depth. Residual or depositional zones (summit, middle slope,
and footslope) exhibited stronger organic matter stabilization, while erosional
zones (upper and lower slopes) contained these fractions along with increased
weakly adsorbed OM and water-soluble OM. These findings highlight that slope
dynamics and soil depth play a crucial role in the stabilization process of
soil organic matter through mineral interactions, supporting soil conservation
strategies to maintain long-term organic carbon storage.
Kata Kunci : fraksi, kedalaman, lereng, organomineral, tanah