Laporkan Masalah

European Green Deal sebagai Green Colonialism: Reproduksi Logika Kolonial dalam Tata Kelola Lingkungan Global

Alwan Basil Ramadhan, Yulida Nuraini Santoso, S.I.P., M.Sc.

2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Skripsi ini membahas European Green Deal (EGD) sebagai kebijakan yang mereproduksi struktur kekuasaan kolonialisme dalam tata kelola lingkungan global. Meskipun EGD dipromosikan Uni Eropa (EU) sebagai kebijakan transisi hijau untuk mencapai climate neutrality pada tahun 2050, skripsi ini mengungkap bahwa EGD justru mereproduksi logika kolonial-kapitalis yang menempatkan EU selaku Global North sebagai pusat peradaban sekaligus pemimpin moral dalam diskursus transisi hijau, sekaligus menjadikan Global South sebagai green sacrifice zone. Dengan menggunakan kerangka teoretis poskolonialisme dan konsep green colonialism, skripsi ini menganalisis bagaimana EGD beroperasi melalui mekanisme green extractivism, green grabbing, dan green protectionism yang mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia, sekaligus menyingkirkan peran dan pengetahuan Global South. Skripsi ini menggunakan metode kualitatif interpretatif dengan discourse analysis terhadap dokumen kebijakan, pidato, laporan, serta sumber akademik lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EGD merupakan manifestasi green colonialism yang tidak hanya memperdalam ketimpangan material dan non-material antara Global North dan Global South, tetapi juga melanggengkan dominasi Eropa dalam tata kelola lingkungan global dengan membingkai standar EGD sebagai norma universal yang harus diadopsi.

This thesis discusses the European Green Deal (EGD) as a policy that reproduces the power structures of colonialism within global environmental governance. Although the EGD is promoted by the European Union (EU) as a green transition policy aimed at achieving climate neutrality by 2050, this thesis reveals that the EGD instead reproduces colonial-capitalist logics that position the EU, as part of the Global North, as both the center of civilization and the moral leader in the green transition discourse, while simultaneously turning the Global South into a green sacrifice zone. Using the theoretical framework of postcolonialism and concept of green colonialism, this study analyzes how the EGD operates through mechanisms of green extractivism, green grabbing, and green protectionism, which exploit natural and human resources while marginalizing the roles and knowledge systems of the Global South. This thesis employs a qualitative interpretive method using discourse analysis of policy documents, speeches, reports, and other academic sources. The findings show that the EGD is a manifestation of green colonialism that not only deepens the material and non-material inequalities between the Global North and Global South, but also perpetuates European dominance in global environmental governance by framing the EGD’s standards as universal norms to be adopted.

Kata Kunci : European Green Deal, Green Colonialism, Poskolonialisme, Global South, Green Extractivism, Green Grabbing, Green Protectionism.

  1. S1-2025-480008-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480008-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480008-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480008-title.pdf