Laporkan Masalah

Kelayakan Finansial Pengusahaan Lebah Madu di Hutan Rakyat Padukuhan Kedungpoh Lor Kalurahan Kedungpoh Kapanewon Nglipar Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta

Salsabila Ajeng Sekar Kinasih, Agus Affianto, S.Hut., M.Si.

2025 | Skripsi | KEHUTANAN

Budidaya lebah madu merupakan salah satu bentuk pemanfaatan hutan rakyat guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Padukuhan Kedungpoh Lor telah melakukan budidaya lebah madu sejak tahun 1998 dengan jenis lebah madu Apis cerana dan Trigona sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses budidaya lebah madu dan mengukur kelayakan finansial pengusahaan lebah madu di hutan rakyat Padukuhan Kedungpoh Lor. 

Penelitian menggunakan metode sensus terhadap 30 petani lebah madu yang masih aktif di Padukuhan Kedungpoh Lor. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, studi literatur, dan wawancara. Data kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif untuk mengetahui proses budidaya lebah madu, serta deskriptif kuantitatif menggunakan tiga kriteria investasi, yaitu Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), dan Internal Rate of Return (IRR) dengan tingkat diskonto sebesar 3,29% untuk mengukur kelayakan finansial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya lebah madu dilakukan secara tradisional melalui tahapan persiapan berupa pengadaan stup dan peralatan budidaya, pengadaan koloni secara alami, pemeliharaan koloni dilakukan secara rutin dan berkala, pemanenan madu setelah masa tunggu, serta pengemasan madu dilakukan secara manual dan pemasaran madu dengan pola yang tradisional dan berkelanjutan. Pengusahaan madu layak secara finansial, ditunjukkan oleh nilai NPV yang positif, BCR lebih besar dari 1, dan IRR melebihi tingkat suku bunga riil pada kedua jenis lebah madu. Analisis kelayakan dilakukan dengan mengklasifikasikan petani menjadi tiga kelas usaha berdasarkan jumlah stup, serta mempertimbangkan perlakukan pemberian pakan tambahan pada jenis Apis cerana. Hal ini menunjukkan bahwa pengusahaan lebah madu mampu memberikan keuntungan bagi petani. 

Honeybee cultivation is one form utilizing forests to improve local welfare. Padukuhan Kedungpoh Lor has been practicing honeybee farming since 1998, involving the species Apis cerana and Trigona sp. This study aims to describe the honeybee cultivation process and assess the financial feasibility of honeybee enterprises in the community forest of Padukuhan Kedungpoh Lor. 

The research employed a census method involving 30 active beekeepers in Padukuhan Kedungpoh Lor. Data were collected through observation, literature review, and interviews, Qualitative descriptive analysis was used to examine the cultivation process, while quantitative descriptive analysis applied three investment criteria: Net Present Valur (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), and Internal Rate of Return (IRR), with a discount rate of 3,29% to evaluate finansial feasibility.

The results indicate that honeybee cultivation is conducted traditionally, including preparation of hives and equipment, natural colony acquisition, routine and periodic colony maintenance, harvesting honey after the waiting period, manual honey packaging, and marketing using traditional and sustainable patterns. The honeybee enterprise is financially feasible, as evidenced by positive NPV, BCR greater than 1, and IRR exceeding the real interest rate for both species. Feasibility analysis classified beekeepers into three business classed based on hive ownership and considered supplementary feeding for Apis cerana. This demonstrates that honeybee farming provides profitable opportunities for local farmers.

Kata Kunci : Hutan Rakyat, Budidaya Lebah Madu, Apis cerana, Trigona sp., Analisis Kelayakan Finansial / Community Forest, Honeybee Cultivation, Apis cerana, Trigona sp., Financial Feasibility Analysis

  1. S1-2025-480997-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480997-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480997-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480997-title.pdf