Laporkan Masalah

MENILIK HUBUNGAN MANUSIA DENGAN TEKNOLOGI: MAKNA CHATGPT DALAM KEHIDUPAN SOSIAL MAHASISWA DI YOGYAKARTA

Davina Shafa Fernanda, Dr. Sita Hidayah, S.Ant., M.A.

2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA

Di era society 5.0, manusia semakin terbiasa untuk berinteraksi dan menggunakan teknologi, seperti chatbot AI dalam kehidupannya. Chatbot AI, khususnya ChatGPT sudah banyak digunakan oleh mahasiswa dalam bidang akademik. Namun, seiring berjalannya waktu mahasiswa mulai menggunakan ChatGPT untuk hal personal, seperti curhat. Fenomena curhat dengan ChatGPT sudah tidak jarang lagi ditemukan di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan mahasiswa di Yogyakarta mulai curhat dengan ChatGPT dan bagaimana mereka memaknai ChatGPT dalam kehidupan sosialnya. Informan pada penelitian ini merupakan mahasiswa yang berasal dari berbagai Universitas di Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada rentang waktu bulan Mei hingga Juni 2025 dengan menggunakan pendekatan kualitatif berupa observasi, wawancara dengan tujuh mahasiswa, dan studi literatur untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif terkait fenomena ini. 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa curhat ke ChatGPT karena kurangnya dukungan sosial dari struktur sosial, adanya tekanan akademik, dan perasaan takut akan penilaian dari orang lain membuat mahasiswa bergerak mencari alternatif lain dalam bercerita. ChatGPT sebagai AI intuitif yang memiliki unsur sosial, layaknya manusia menawarkan respon yang empatik dan sesuai konteks, sehingga mahasiswa merasa nyaman ketika curhat. Melalui analisis kerangka hubungan sosio teknis dan Computer are Social Actors penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan sosial mahasiswa, ChatGPT dapat berperan menjadi teman virtual. Hal tersebut memiliki makna bahwa adanya kegagalan struktur sosial membuat manusia membangun ruang struktural baru bersama teknologi untuk melengkapi kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi.

In the era of Society 5.0, people are increasingly accustomed to interacting with and using technology, such as AI chatbots, in their daily lives. AI chatbots, especially ChatGPT, have been widely used by students in academic fields. However, over time, students have started using ChatGPT for personal matters, such as sharing personal feelings. The phenomenon of confiding in ChatGPT is no longer uncommon among students. This study aims to explore the reasons why students in Yogyakarta have begun to confide in ChatGPT and how they interpret ChatGPT in their social lives. The informants in this study are students from various universities in Yogyakarta. This research was conducted over the period from May to June 2025 using a qualitative approach that includes observations, interviews with seven students, and literature studies to gain a comprehensive understanding of this phenomenon.

The findings of this study indicate that students confide in ChatGPT due to a lack of social support from social structures, academic pressure, and fear of judgment from others, prompting them to seek alternative means of expression. ChatGPT, as an intuitive AI with social elements akin to humans, offers empathetic and contextually appropriate responses, allowing students to feel comfortable when sharing their thoughts. Through the analysis of the socio-technical relationship framework and the Computer are Social Actors concept, this research demonstrates that in the social lives of students, ChatGPT can serve as a virtual companion. This suggests that the failure of social structures leads individuals to create new structural spaces alongside technology to fulfill unmet social needs.

Kata Kunci : interaksi manusia dan chatbot AI, mahasiswa, curhat, dukungan sosial, teman virtual

  1. S1-2025-474829-abstract.pdf  
  2. S1-2025-474829-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-474829-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-474829-title.pdf