OKUPANSI GAJAH SUMATRA (Elephas maximus sumatranus) DI LAHAN KONSESI PT TUSAM HUTANI LESTARI, KORIDOR PEUSANGAN, PROVINSI ACEH
Frans Wisnu Brata, Dr.rer.silv. Muhammad Ali Imron, S.Hut., M.Sc.
2025 | Skripsi | KEHUTANAN
Gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus)
merupakan spesies yang terancam punah disebabkan berbagai ancaman kerusakan
habitat akibat konversi lahan, deforestasi, serta konflik manusia-gajah (HEC). Penurunan
populasi gajah di kawasan Koridor Peusangan menjadi tantangan besar dalam upaya
konservasi spesies ini. Penyediaan lahan seluas 20.000 Ha untuk konservasi
gajah di wilayah tersebut menuntut langkah awal dalam merancang strategi
konservasi yang efektif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
menaksir tingkat okupansi gajah di lahan konsesi PT Tusam Hutani Lestari dan Koridor
Peusangan serta mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi
keberadaan gajah sebagai langkah dasar dalam upaya pelestarian gajah di kawasan
ini.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
pendekatan model okupansi satu musim (single-season occupancy model)
yang menggabungkan data kehadiran gajah dan kovariat lingkungan yang relevan.
Survei lapangan dilakukan dengan metode systematic sampling pada grid survei,
mengidentifikasi tanda-tanda keberadaan gajah langsung dan tidak langsung. Data
yang diperoleh dianalisis menggunakan Software RStudio versi 4.5.0 dan
paket unmarked untuk memperhitungkan probabilitas deteksi dan okupansi,
serta mengidentifikasi pengaruh kovariat lingkungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat okupansi gajah di kawasan Koridor Peusangan dan lahan konsesi PT Tusam Hutani Lestari mencapai 34.67?ngan probabilitas deteksi sebesar 21,83%. Jarak dari salt lick, NDVI, dan jarak dari area terbangun merupakan kovariat lingkungan yang paling berpengaruh terhadap okupansi gajah, menunjukkan hubungan negatif terhadap probabilitas okupansi. Hasil ini mengindikasikan bahwa gajah lebih cenderung mendatangi area dengan akses yang lebih dekat ke salt lick, area vegetasi yang lebih terbuka (NDVI rendah), serta area terbangun.
The sumatran elephant
(Elephas maximus sumatranus) is an endangered species due to various threats,
including habitat destruction caused by land conversion, deforestation, and
human-elephant conflicts (HEC). The decline in the elephant population in the
Peusangan Corridor area presents a significant challenge for the conservation
of this species. The allocation of 20,000 hectares of land for elephant
conservation in the region necessitates the development of initial steps to
design an effective conservation strategy. Therefore, this study aims to
estimate the elephant occupancy rate in the PT Tusam Hutani Lestari concession
area and the Peusangan Corridor, as well as to identify the environmental
factors influencing their presence as a foundational step in the conservation
efforts for elephants in this area.
This study was conducted using a single-season
occupancy model approach, incorporating elephant presence data and relevant
environmental covariates. Field surveys were carried out using a systematic
sampling method on survey grids, identifying both direct and indirect signs of
elephant presence. The data collected were analyzed using RStudio version 4.5.0
and the unmarked package to account for detection probabilities and occupancy,
as well as to identify the influence of environmental covariates.
The results showed that the elephant occupancy rate in the Peusangan Corridor area and PT Tusam Hutani Lestari concession land reached 34.67%, with a detection probability of 21.83%. The distance to salt licks, NDVI, and distance to built-up areas were the most influential environmental covariates affecting elephant occupancy, showing a negative relationship with occupancy probability. This suggests that elephants are more likely to visit areas with closer access to salt licks, more open vegetation (low NDVI), and built-up areas.
Kata Kunci : Kata Kunci: okupansi, Koridor Peusangan, model okupansi, salt lick, NDVI ; Keywords: occupancy, Peusangan Corridor, occupancy model, salt lick, NDVI