Laporkan Masalah

Karya Tulis Sebagai Medium Perlawanan: Analisis Wacana Kritis Buku Tanah Air Yang Hilang

Alexander Maxchaelen Feilex Aeksi Nauli Sihombing, Evi Lina Sutrisno, S.Psi., M.A., Ph.D.

2025 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Fenomena eksil pasca-1965 di Indonesia sering terdistorsi oleh narasi Orde Baru yang menghegemoni pandangan masyarakat terhadap mereka. Penelitian ini menganalisis buku Tanah Air Yang Hilang karya Martin Aleida yang mengandung dengan menggunakan Critical Discourse Analysis (CDA) oleh Fairclough, yang meliputi dimensi tekstual, praktik kewacanaan, dan sosiokultural. Tujuannya adalah mengungkap narasi tandingan dari pengalaman yang diceritakan oleh para eksil dan menantang wacana Orde Baru. Hasil analisis menunjukkan bahwa banyak narasi Orde Baru yang tidak menyoroti kondisi sebenarnya yang dialami para eksil. Sebaliknya, buku ini membantah anggapan eksil hidup nyaman tanpa penderitaan dan menyoroti trauma mendalam, perpisahan keluarga, kesulitan ekonomi, serta kegigihan mereka dalam bertahan hidup di luar negeri maupun dalam mempertahankan kesetiaan pada Indonesia sekaligus terus berkontribusi terhadap tanah air. Buku ini juga mendokumentasikan upaya eksil menuntut akuntabilitas dan pelurusan sejarah. Dimana Tanah Air Yang Hilang juga mendapat mayoritas respons positif dari masyarakat dan akademisi, menunjukkan perannya sebagai media edukasi dan penantang wacana Orde Baru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa buku tersebut dapat berfungsi sebagai counter-hegemony krusial dalam penulisan ulang sejarah nasional, mendorong kesadaran kolektif untuk mengawal narasi sejarah agar tidak terdominasi oleh wacana warisan Orde Baru.

The phenomenon of post-1965 exile in Indonesia has often been distorted by the New Order’s narrative, which has hegemonized public perception toward them. This study analyzes Tanah Air Yang Hilang by Martin Aleida using Fairclough’s Critical Discourse Analysis (CDA), encompassing textual, discursive practice, and sociocultural dimensions. The aim is to uncover counter-narratives from the experiences recounted by the exiles and to challenge the New Order discourse. The analysis reveals that many New Order narratives failed to portray the actual conditions experienced by the exiles. In contrast, this book refutes the assumption that exiles lived comfortably without suffering, highlighting instead their deep trauma, family separations, economic hardship, and perseverance in surviving abroad while maintaining loyalty to Indonesia and continuing to contribute to their homeland. The book also documents the exiles’ efforts to demand accountability and historical rectification. Tanah Air Yang Hilang has received largely positive responses from both the public and academics, indicating its role as an educational medium and a challenge to New Order discourse. This study concludes that the book serves as a crucial form of counter-hegemony in rewriting national history, fostering collective awareness to safeguard historical narratives from domination by the legacy of New Order discourse.

Kata Kunci : Artivisme, Wacana Tandingan, Eksil, Karya Tulis, Orde Baru, Tanah Air Yang Hilang, Artivism, Counter-Hegemony, Exile, Media, Alternative Narratives, Critical Discourse Analysis

  1. S1-2025-480323-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480323-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480323-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480323-title.pdf