Laporkan Masalah

Keseimbangan Karbon pada Lahan Organik dan Konvensional di Agroekosistem Sawah Desa Tirtosari, Sawangan, Magelang

Faisa Ginanita, Prof. Dr. Ir. Benito Heru Purwanto, M.P., M.Agr. ; Andi Syahid Muttaqin, S.Si., M.Si., Ph.D.

2025 | Skripsi | ILMU TANAH

Perubahan iklim global dipengaruhi oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Sektor pertanian, khususnya lahan padi sawah menjadi salah satu penyumbang utama. Aktivitas pengelolaan sawah dapat menghasilkan emisi metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang berkontribusi terhadap akumulasi GRK. Untuk mengurangi dampak tersebut, diperlukan penerapan sistem pertanian padi rendah karbon. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh sistem pertanian baik organik dan konvensional terhadap keseimbangan karbon pada lahan padi sawah, serta mengkaji aliran input dan output karbon pada lahan sawah yang dikelola. Penelitian dilaksanakan pada lahan sawah Desa Tirtosari, Sawangan, Magelang, yang terdiri dari tiga lahan dengan sistem organik dan 3 lahan dengan sistem konvensional. Parameter yang diamati meliputi analisis tanah, tanaman, produktivitas, serta emisi CH4 yang diukur secara berkala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan karbon pada kedua sistem belum mampu menyimpan karbon tanah secara optimal. Meskipun secara umum tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada komponen tanah, tanaman, produktivitas, maupun emisi CH4, namun jumlah emisi CH4 yang dilepaskan ke atmosfer dari sistem organik lebih rendah yaitu bernilai 23,86 kg/ha dibandingkan sistem konvensional dengan nilai 104,41 kg/ha. Hal ini menandakan bahwa sistem pertanian organik berpotensi lebih efektif menekan emisi GRK dan mendukung tercapainya pertanian padi berkelanjutan dengan jejak karbon yang lebih rendah.

Global climate change is influenced by increased concentrations of greenhouse gases (GHGs) in the atmosphere. The agricultural sector, particularly rice paddies, is one of the main contributors. Rice paddy management activities can produce methane (CH4) and carbon dioxide (CO2) emissions that contribute to the accumulation of GHGs. To reduse this impact, a low-carbon rice farming system needs to be implemented. This study aims to compare the effects of organic and conventional farming systems on the carbon balance in rice paddies, as well as to examine the carbon input and output flows in managed paddies. The study was conducted on rice fields in Tirtosari Village, Sawangan, Magelang, consisting of three fields with conventional systems. The parameters observed include soil analysis, crops, productivity, and CH4 emissions measure periodically. The results showed that the carbon balance in both systems was not yet able to store soil carbon optimally. Although there are generally no significant differences in soil components, crops, productivity, or CH4 emissions, the amount of CH4 emissions released into the atmosphere from organic systems is lower, at 23,86 kg/ha, compared to conventional systems, at 104,41 kg/ha. This indicates that organic farming systems have the potential to be more effective in reducing GHG emissions and supporting the achievement of sustainable rice farming with a lower carbon footprint.

Kata Kunci : emisi metana, padi rendah karbon, keseimbangan karbon, organik, konvensional

  1. S1-2025-482940-abstract.pdf  
  2. S1-2025-482940-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-482940-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-482940-title.pdf