Agensi Ibu Tunggal dalam Menghadapi Tantangan Sosial-Ekonomi di Wilayah Kampung Kota
Aliffia Putri Sekarwati, Desintha Dwi Asriani, S.Sos., M.A., Ph.D.
2025 | Skripsi | Sosiologi
Penelitian ini membahas agensi ibu tunggal dalam
menghadapi tantangan sosial dan ekonomi di wilayah kampung kota, dengan fokus
pada ibu tunggal dari kalangan kelas bawah di Kelurahan Sinduadi, Sleman,
Yogyakarta. Kampung kota seperti Sinduadi merepresentasikan ruang
urban-komunal, di mana modernitas perkotaan berpadu dengan nilai-nilai
tradisional yang masih kuat. Ciri utama wilayah ini adalah solidaritas sosial
dan kedekatan antarwarga, namun di saat yang sama tetap memelihara norma
patriarki dan pengawasan moral yang ketat terhadap perempuan, khususnya ibu
tunggal. Dalam konteks tersebut, ibu tunggal tidak hanya menghadapi beban
ekonomi, tetapi juga stigma sosial dan keterbatasan ruang gerak akibat
pandangan moral masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi
kualitatif untuk memahami makna pengalaman hidup ibu tunggal serta
bentuk-bentuk agensi yang mereka kembangkan dalam menegosiasikan kehidupan
sehari-hari. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi
partisipatif, kemudian dianalisis secara tematik dengan menggunakan teori
patriarki Sylvia Walby dan agensi feminis Seyla Benhabib. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ibu tunggal menghadapi tekanan berlapis, baik dalam bentuk
keterbatasan ekonomi akibat dominasi pekerjaan informal maupun pengawasan
sosial berbasis moralitas keluarga ideal. Komunalitas di kampung kota yang
didasari solidaritas sosial tidak sepenuhnya menjamin dukungan konkret bagi ibu
tunggal, karena bantuan yang diberikan lebih bersifat simbolik dan moral
ketimbang material. Dalam kondisi ini, agensi ibu tunggal tampak melalui
strategi bersiasat untuk mempertahankan ketahanan ekonomi keluarga, seperti
meminjam uang, menunda kebutuhan pribadi, memanfaatkan jaringan informal, serta
berbagi tanggung jawab ekonomi dengan anak. Strategi ini merupakan bentuk
negosiasi reflektif yang memungkinkan mereka bertahan tanpa menentang norma
secara frontal, namun tetap menjaga martabat diri di tengah tekanan patriarki.
Temuan ini menegaskan bahwa agensi ibu tunggal kelas bawah di kampung kota
merupakan ekspresi ketahanan sosial (social
resilience) yang berakar pada kemampuan adaptasi, refleksi, dan siasat
dalam mengelola kehidupan di antara relasi yang kompleks antara patriarki,
kelas, dan solidaritas komunitas.
This study explores the agency of single mothers in
facing social and economic challenges in urban-village settings, focusing on
lower-class single mothers in Sinduadi, Sleman, Yogyakarta. Urban villages such
as Sinduadi represent urban-communal spaces where urban modernity coexists with
deeply rooted traditional values. The main characteristics of these areas
include social solidarity and close interpersonal relations, yet they continue
to uphold patriarchal norms and moral surveillance over women, particularly
single mothers. Within this context, single mothers experience not only
economic burdens but also social stigma and limited mobility due to prevailing
moral expectations. This research employs a qualitative phenomenological
approach to understand the lived experiences of single mothers and the forms of
agency they develop in negotiating everyday life. Data were collected through
in-depth interviews and participatory observation, then analyzed thematically
using Sylvia Walby’s theory of patriarchy and Seyla Benhabib’s feminist agency
framework. The findings reveal that single mothers face multiple layers of
pressure economic constraints caused by informal employment dominance and
social control rooted in ideals of the “complete family.” Communality within
urban villages, despite being based on solidarity, does not necessarily
translate into concrete support for single mothers, as assistance tends to be
symbolic or moral rather than material. In response, their agency manifests
through adaptive and tactical strategies to sustain family economic resilience,
such as borrowing money, postponing personal needs, relying on informal
networks, and sharing financial responsibilities with their children. These
strategies represent reflective negotiations that allow them to endure without
directly confronting social norms, while preserving dignity amid patriarchal
constraints. The study concludes that the agency of lower-class single mothers
in urban-village contexts reflects a form of social resilience rooted in adaptation,
reflection, and tactical negotiation in navigating complex relations between
patriarchy, class, and communal solidarity.
Kata Kunci : ibu tunggal, agensi, patriarki, strategi bertahan, kampung kota/single mothers, agency, patriarchy, survival strategies, urban village