Laporkan Masalah

Aktivisme di Media Sosial dan Gerakan Sosial 'Usut Tuntas'

ABDILLAH ALI NAJIB, Dr. Ratnawati, S.U.

2025 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Penelitian ini berfokus pada bagaimana peran aktivisme media sosial dalam gerakan sosial "Usut Tuntas" tragedi Kanjuruhan. Tragedi yang terjadi pada 1 Oktober 2022 tersebut menewaskan lebih dari 135 orang dan memicu gelombang protes dari masyarakat sipil. Salah satu bentuk perlawanan publik terhadap narasi resmi pemerintah dan institusi terkait adalah melalui media sosial, yang menjadi medium utama menyuarakan kritik, membangun solidaritas, dan menuntut keadilan. Pertanyaan utama yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimana aktivisme media sosial berperan dalam membentuk dan mendorong gerakan sosial pascatragedi Kanjuruhan

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan dua penelitian teoretis utama: teori connective action oleh Bennett dan Segerberg serta framing theory oleh Goffman dan Snow dkk. Connective action menjelaskan bagaimana media sosial memungkinkan partisipasi individu yang fleksibel dan personal tanpa struktur organisasi yang kaku. Sementara itu, framing theory digunakan untuk menganalisis bagaimana aktivis membingkai ulang narasi tragedi, menantang narasi dominan, dan membangun solidaritas publik melalui penyelarasan bingkai seperti frame bridging, amplification, extension, dan transformation.

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode studi wacana kritis (Critical Discourse Analysis) dari Van Dijk. Data dikumpulkan melalui analisis konten media sosial, khususnya platform X (sebelumnya Twitter), serta wawancara mendalam dengan delapan narasumber, termasuk aktivis, pengamat sepak bola, kerabat penyintas, dan penggemar sepak bola. Analisis dilakukan dengan melihat tiga dimensi, teks, kognisi sosial, serta konteks sosial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi teks, aktivis menggunakan strategi counterframing melalui tagar, ilustrasi, dan testimoni untuk membantah narasi resmi yang menyudutkan korban. Pada dimensi kognisi sosial, media sosial membentuk representasi kolektif yang menekankan ketidakadilan, memicu empati lintas identitas, dan membangun kesadaran moral baru. Sedangkan pada dimensi konteks sosial, gerakan ini menunjukkan resistensi terhadap dominasi negara dan media arus utama, serta menjadi bentuk perlawanan akar rumput yang tumbuh dari pengalaman bersama. Meskipun menghadapi represi dan fragmentasi, media sosial terbukti menjadi alat penting dalam membangun solidaritas, mendisrupsi wacana hegemonik, dan memperjuangkan keadilan secara kolektif.

This research focuses on the role of social media activism in the “Usut Tuntas” social movement following the Kanjuruhan tragedy. The tragedy, which occurred on October 1, 2022, claimed more than 135 lives and triggered a wave of protests from civil society. One of the main forms of public resistance against the official narratives promoted by the government and related institutions was through social media, which became a key medium for voicing criticism, building solidarity, and demanding justice. The central question of this study is how social media activism played a role in shaping and driving the social movement in the aftermath of the Kanjuruhan tragedy.


To answer this question, the study employs two main theoretical frameworks: the theory of connective action by Bennett and Segerberg, and framing theory by Goffman and Snow et al. Connective action explains how social media enables flexible and personalized participation without rigid organizational structures. Meanwhile, framing theory is used to analyze how activists reframed the narrative of the tragedy, challenged dominant discourses, and built public solidarity through frame alignment processes such as bridging, amplification, extension, and transformation.


This research uses a qualitative approach with Van Dijk’s Critical Discourse Analysis (CDA) method. Data were collected through social media content analysis, focusing particularly on the platform X (formerly Twitter), as well as in-depth interviews with eight informants, including activists, football observers, relatives of survivors, and football supporters. The analysis examines three dimensions: text, social cognition, and social context.


The findings show that, on the textual dimension, activists employed counter-framing strategies through hashtags, illustrations, and testimonies to challenge official narratives that blamed the victims. On the social cognition dimension, social media shaped collective representations that emphasized injustice, generated cross-identity empathy, and fostered new moral awareness. On the social context dimension, the movement demonstrated resistance to state and mainstream media dominance and emerged as a form of grassroots resistance rooted in shared experiences. Despite facing repression and fragmentation, social media has proven to be a crucial tool in building solidarity, disrupting hegemonic discourses, and collectively pursuing justice.

Kata Kunci : Tragedi Kanjuruhan, Aktivisme Media Sosial, Gerakan Sosial, Connective Action, Framing Theory

  1. S1-2025-459861-abstract.pdf  
  2. S1-2025-459861-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-459861-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-459861-title.pdf