Pelestarian sumberdaya hayati Siput Abalon (Haliotis spp) pada zona pasang surut di Kabupaten Lombok Tengah
Bayu Priyambodo, Prof. Dr. Shalihuddin Djalal Tandjung, M.Sc.
2006 | Tesis | S2 Ilmu LingkunganINTISARI Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya terpadu untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman sumberdaya hayati terbesar kedua setelah Brasil. Salah satu keanekaragaman sumberdaya hayati laut yang perlu dilestarikan adalah abalon. Abalon adalah kelompok hewan gastropoda herbivora laut yang mendiami kawasan pantai berbatu yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai bahan makanan. Nilai ekonomi yang tinggi telah mendorong perdagangan dan eksploitasi terhadap abalon di habitatnya pada zona pasang surut. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan batasan daerah kepesisiran. Kepadatan tertinggi rata-rata abalon terdapat di pantai Kuta (0,150 ind/m2) diikuti pantai Muluk (0,128 ind/m2), dan pantai Serenting (0,117 ind/m2). Komposisi abalon yang ditemukan terdiri dari 4 spesies; Haliotis asinina (54,93%), Haliotis ovina (26,76%), Haliotis varia (11,27%), dan Haliotis vulcanicus (7,04%). Estimasi besarnya populasi abalon berdasarkan nilai kerapatan per meter persegi dengan luas habitat yang dihuni sampai saat ini sekitar 13.244,1 individu dengan kombinasi ukuran cangkang 43,66 % berukuran <50 mm; 16,90 % berukuran 50-60 mm„ dan 39,44 % berukuran >60 mm (individu dewasa). Berdasarkan kriteria keterancaman populasi biota TUCN/SSC 1994 populasi abalon di lokasi penelitian dapat dimasukkan dalam status "terancam" karena sudah memenuhi kriteria nomor 3-5, yakni: a) kritis/critically endangered; b) genting/endangered; dan c) rentan/vulnerable. Faktor-faktor lingkungan fisika dan kimia perairan tidak secara langsung mempengaruhi kemelimpahan abalon, namun lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor seperti tipe pantai, jenis substrat, dan iklim. Rencana strategis dalarn pengelolaan sumberdaya hayati abalon di zona pasang surut Kabupaten Lombok Tengah adalah perlu melakukan upaya penyelamatan di alam, melalui: pengendalian penangkapan, pengendalian kerusakan habitat, dan pemulihan populasi abalon dengan penerapan sea ranching/marine culture, sehingga di masa yang akan datang diharapkan terjadi keseimbangan antara pemanfaatan, eksploitasi dan pemulihan sumberdaya hayati abalon bagi kesejahteraan masyarakat pesisir. Kata-kata Kunci: pelestarian, zona pasang surut, abalon, terancam, pengelolaan.
ABSTRACT Conservation of environmental function is a series of integrated efforts to maintain the sustainability of load bearing and accommodating capacities of the environment. Environment load bearing capacity is its ability to support Iives of human being and other creatures. Indonesia is known s a country with the second biggest biodiversity in the world after Brasilia. One of the marine biodiversities to be conserved is abalone. Abalone are herbivorous marine gastropods inhabiting the coastal reef zone that has a high economic value as a seafood. High economic values have accelerated abalone trade and exploitation in its habitat, the tidal affected zone. The research applies a survey method and the scope covers the coastal areas. The highest average density of abalone is found in Kuta shore (0,150 ind/m2), Muluk shore (0,128 ind/m2), and Serenting shore (0,117 ind/m2) respectively. The composition of abalone identified consist of 4 species: Haliotis asinina (54.93%), Haliotis ovina (26,76%), Haliotis varia (11,27%) and Haliotis vulcanicu.s. (7,04%). The estimate of total population of abalone based on the rate of density and the width of habitat is approximately 13.244,1 individuals while the shell length (SL) sizes range from <50 mm (43,66%), 50-60 mm (16,90%) and >60 mm (39,44%, which is an adult abalone). Based on the 1994 IUCN/SSC criteria for endangered biota, the population of abalone in Lombok Tengah Regency is classified into an endangered species as it has reached the 3-5 criteria, which critically endangered, endangered, and vulnerable. The physic and chemical environment do not directly affect the abundance of abalone. On the other hand, many factors such as shore type, substrates type, and climate contribute bigger impacts. The strategic plan for abalone management in the tidal effected zone in Lombok Tengah Regency is to save abalone in its natural habitat. The effort may be carried out through imposing control of catching and damage habitat, and recovery of abalone population by means of sea ranching / marine culture, in order to secure the balance between the use, exploitation, and recovery of abalone for the sake of prosperity in coastal areas. Key words: conservation, tidal affected zone, abalone, threatened, management
Kata Kunci : pelestarian, zona pasang surut, abalon, terancam, pengelolaan