Kelayakan Kondisi Kerja, Dukungan Sosial, dan Kesejahteraan Subjektif: Studi Tentang Pekerja Porter Lansia di Stasiun Tugu Yogyakarta
Syifa Rizqi Amalia, Drs. Mulyadi, MPP. Ph.D.
2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Kerja layak merupakan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang menjadi hak setiap orang, termasuk lansia yang rentan secara fisik dan ekonomi. Kondisi kerja layak ditunjukkan dengan ketercukupan gaji, pembatasan jam kerja, serta terjaminnya keselamatan kerja, khususnya bagi lansia. Di Yogyakarta, provinsi dengan jumlah lansia tertinggi, porter menjadi salah satu pekerjaan informal lansia. Pada faktanya, para porter lansia bekerja dalam kondisi yang serba rentan karena mengandalkan kekuatan fisik yang sudah menurun, tanpa jaminan keselamatan kerja, dan upah yang tetap. Hal tersebut menunjukkan adanya kesenjangan kesejahteraan karena kurang layaknya kondisi kerja yang lansia miliki. Kesejahteraan lansia dapat dipengaruhi oleh kelayakan kondisi kerja dan dukungan sosial yang diterima.
Penelitian ini menggunakan konsep kesejahteraan subjektif, kelayakan kondisi kerja, dan dukungan sosial untuk menganalisis kondisi kesejahteraan subjektif porter lansia. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan Teori Psikologi Bekerja untuk menganalisis kondisi kerja yang diterima porter lansia secara keseluruhan. Dalam hal ini, kesejahteraan subjektif porter lansia dilihat dari kondisi kerja serta dukungan sosial yang diterima. Meskipun penelitian ini menggunakan konsep kesejahteraan subjektif dari Barat, penerapannya dalam konteks Indonesia menekankan pada dimensi sosial, budaya, dan ekonomi yang membedakannya dari orientasi individualistik teori Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan dilakukan di Stasiun Tugu Yogyakarta. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi non-partisipan, serta dokumentasi kepada 6 informan utama dan 8 informan pendukung sebagai sumber data primer. Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian, verifikasi, serta penarikan kesimpulan. Dan uji keabsahan dilakukan melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa porter lansia memiliki kesejahteraan subjektif yang baik apabila kondisi kerja yang dimiliki layak dan dukungan sosial memadai. Kelayakan kondisi kerja berpengaruh terhadap kesejahteraan subjektif porter lansia karena mendukung kepuasan dan ketenangan dalam bekerja serta memenuhi hak-hak dasar kerja. Sementara dukungan sosial berperan terhadap kesejahteraan subjektif porter lansia melalui tercapainya kepuasan hidup, makna hidup, kebahagiaan, serta pengakuan eksistensi. Kesejahteraan subjektif porter lansia bersifat dinamis, fluktuatif, dan dipengaruhi preferensi individu serta keterpenuhan dimensi objektif.
Decent work is part of the Sustainable Development Goals (SDGs) agenda and a right of every person, including elderly people who are physically and economically vulnerable. Decent working conditions are characterized by adequate wages, limited working hours, and guaranteed occupational safety, especially for the elderly. In Yogyakarta, the province with the highest number of elderly people, porters are one of the informal jobs for the elderly. In fact, elderly porters work under vulnerable conditions because they rely on their declining physical strength, without job security or fixed wages. This indicates a welfare gap resulting from the poor working conditions of the elderly. The welfare of the elderly can be influenced by the adequacy of working conditions and the social support they receive.
This research uses the concepts of subjective well-being, work conditions, and social support to analyze the subjective well-being of elderly porters. In addition, this research applies the Psychology of Working Theory to analyze the overall working conditions of elderly porters. In this case, the subjective well-being of elderly porters is viewed from the working conditions and social support. Although this study uses the Western concept of subjective well-being, its application in the Indonesian context emphasizes the social, cultural, and economic dimensions that distinguish it from the individualistic orientation of Western theory. This research uses a descriptive qualitative method and was conducted at Tugu Station in Yogyakarta. Data collection techniques used in-depth interviews, non-participant observation, and documentation of 6 main informants and 8 supporting informants as primary data sources. Data analysis was carried out through reduction, presentation, verification, and drawing conclusion. The validity test was carried out through source, technique, and time triangulation.
The results of the research indicate that elderly porters have good subjective well-being when they have decent working conditions and adequate social support. Decent working conditions affect the subjective well-being of elderly porters because they support satisfaction and peace of mind at work and fulfill basic labor rights. Meanwhile, social support plays a role in the subjective well-being of elderly porters through the achievement of life satisfaction, meaning in life, happiness, and recognition of existence. The subjective well-being of elderly porters is dynamic, fluctuating, and influenced by individual preferences and the fulfillment of objective dimensions.
Kata Kunci : Porter lansia, kesejahteraan subjektif, kelayakan kondisi kerja, dukungan sosial/elderly porters, subjective well-being, working conditions, social support.