Laporkan Masalah

Gerakan Sosial Baru Oleh Sekolah Pagesangan Dalam Konservasi Lingkungan: Dari Persepsi Hingga Aksi

Suqya Rahmatika, Dr. Silverius Djuni Prihatin, M.Si.

2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI

Krisis iklim telah menjadi tantangan global yang memberikan dampak pada sektor pangan serta ancaman ekologi. Sayangnya, proses adaptasi terhadap krisis iklim masih tergolong rendah yang diakibatkan oleh ketidaksesuaian metode atau pendekatan yang digunakan karena didominasi oleh kebijakan dari negara dan pasar yang menuntut efisiensi. Hal ini mengakibatkan otonomi masyarakat dalam melakukan konservasi lingkungan semakin melemah dan menurunkan inisiatif yang berasal dari pengetahuan lokal sebagai bagian dari laku hidup masyarakat tersebut. Pada penelitian ini, Sekolah Pagesangan hadir untuk merespon ancaman pangan dan iklim dengan menggunakan pendidikan kontekstual. Mereka mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan, melestarikan pengetahuan lokal secara turun-temurun, mendorong lahirnya alternatif kesejahteraan dari desa, serta membangun kesadaran konsumsi yang bijak dari sumber pangan yang tumbuh di sekitar mereka. 


Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode tersebut digunakan untuk dapat membantu menjelaskan fenomena secara komprehensif, termasuk aspek motivasi dan aksi yang dilaksanakan oleh Sekolah Pagesangan sebagai suatu gerakan sosial baru. Data penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara, focus group discussion, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Data tersebut kemudian diuji dengan empat kriteria, yaitu kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas.


Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi antara pengalaman, nilai bersama, ide yang dibangun, dan inisiatif lokal telah mendorong terbentuknya gerakan sosial baru yang berkelanjutan serta relevan dengan kondisi mereka sebagai masyarakat lokal dengan otonomi yang dimiliki untuk membuat keputusan mengenai tindakan terhadap lingkungan dan bentuk konservasi yang akan dilakukan. Persepsi lingkungan yang dimiliki oleh anggota Sekolah Pagesangan merupakan hasil dari proses keterlibatan langsung dalam praktik kehidupan sehari-hari. Lingkungan yang dihuni oleh anggota Sekolah Pagesangan tidak dipersepsikan hanya sebagai sumber daya yang terukur dan harus dikelola, melainkan sebagai suatu realitas yang dijalani dan dialami. Persepsi tersebut juga diperkuat oleh kesamaan nilai antar sesama anggota dan kebutuhan akan ruang aktualisasi diri. Gerakan yang dilakukan Sekolah Pagesangan dikembangkan agar selaras dengan kultur masyarakat tani di sekitar, baik dalam proses produksi maupun pertukaran pengetahuan. Pada tingkat produksi, hal ini tercermin melalui penggunaan benih pusaka yang  diwariskan secara turun temurun, penerapan teknik bertani yang ramah lingkungan dan berisiko minim terhadap kerusakan ekosistem. Sementara itu, proses bertukar pengetahuan dilakukan secara partisipatif untuk menyesuaikan praktik tradisional dengan tantangan dan kondisi sosial ekologis kontemporer, tanpa menjauhkan diri dari nilai-nilai lokal yang telah mengakar.


The climate crisis has become a global challenge that impacts the food sector as well as poses ecological threats. Unfortunately, adaptation processes to the climate crisis remain relatively weak, largely due to the inadequacy of methods or approaches used, which are dominated by state and market policies that emphasize efficiency. This situation has weakened community autonomy in conducting environmental conservation and reduced initiatives rooted in local knowledge as part of the community’s way of life. In this research, Sekolah Pagesangan emerges as a response to food and climate threats by applying contextual education. They develop sustainable farming practices, preserve local knowledge passed down through generations, promote alternative forms of rural welfare, and foster awareness of mindful consumption based on local food sources available around them.


This study employs a qualitative method with a case study approach. This method is used to explain the phenomenon comprehensively, including the aspects of motivation and action carried out by Sekolah Pagesangan as a form of new social movement. The research data were collected through interviews, focus group discussions, participatory observation, and documentation. The data were then tested using four criteria: credibility, transferability, dependability, and confirmability.


The findings of this study show that a combination of experiences, shared values, constructed ideas, and local initiatives has driven the formation of a sustainable new social movement relevant to their conditions as a local community with autonomy to make decisions regarding environmental actions and the forms of conservation to be carried out. The environmental perceptions of Sekolah Pagesangan members are the result of direct engagement in everyday life practices. For them, the environment is not perceived merely as a measurable resource to be managed, but as a lived and experienced reality. These perceptions are also reinforced by shared values among members and the need for spaces of self-actualization. The movement carried out by Sekolah Pagesangan is developed in harmony with the culture of the surrounding farming community, both in production processes and in knowledge exchange. At the production level, this is reflected in the use of heirloom seeds passed down through generations and in the application of environmentally friendly farming techniques that minimize ecosystem damage. Meanwhile, knowledge exchange is carried out in a participatory manner to adapt traditional practices to contemporary socio-ecological challenges and conditions, without detaching from the deeply rooted local values.

Kata Kunci : Gerakan Sosial Baru, Konservasi Berbasis Komunitas, Gerakan Lingkungan, Sekolah Pagesangan, Persepsi Lingkungan

  1. S1-2025-473967-abstract.pdf  
  2. S1-2025-473967-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-473967-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-473967-title.pdf