Studi komparatif kemelimpahan kepiting bakau (Scylla serrata) pada berbagai tingkat kerusakan hutan mangrove di muara Somber Balikpapan
MAULENI, Virllya, Prof.Dr. S. Djalal Tandjung, MSc
2005 | Tesis | S2 Ilmu Lingkungan (Magister Pengelolaan LingkungaPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari: (1) komposisi vegetasi penyusun dan tingkat kerusakan hutan mangrove, (2) perbedaan kemelimpahan kepiting bakau (Scylla serrata) pada berbagai zona kerusakan hutan mangrove dan (3) tingkat persepsi masyarakat di kawasan muara Somber Balikpapan. Metode yang digunakan adalah menggunakan metode transek garis dan pengamatan Scylla serrata dengan pengambilan data secara observasi langsung. Data sosial ekonomi diperoleh dari data sekunder dan wawancara dengan menggunakan kuisioner. Analisis data menggunakan analisis tabulasi dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi hutan mangrove di stasiun I (Kelurahan Kariangau) pada zonasi 1 dalam kondisi tidak rusak dengan liputan tajuk 70%, zonasi 2 dalam kondisi tidak rusak dengan liputan tajuk 85%, pada zonasi 3 dalam kondisi mangrove rusak berat dengan liputan tajuk 5%, pada zonasi 4 dalam kondisi mangrove tidak rusak dengan liputan tajuk 65 % dan pada zonasi 5 dalam kondisi mangrove rusak ringan liputan tajuk 50 %. Pada stasiun II (Kelurahan Margomulyo dan Batu Ampar) pada zonasi 1 dalam kondisi rusak ringan dengan liputan tajuk 45 %, zonasi 2 dalam kondisi mangrove rusak berat dengan liputan tajuk 10%, pada zonasi 3 kondisi mangrove rusak berat dengan liputan tajuk 30 %, pada zonasi 4 kondisi mangrove rusak ringan dengan liputan tajuk 40 % dan pada zonasi 5 dalam kondisi mangrove rusak berat dengan liputan tajuk 25 %. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemelimpahan Scylla serrata pada zona-zona kerusakan hutan mangrove yaitu pada zona tidak rusak berkisar 4102-5299 ekor/ha, zona rusak ringan berkisar 2735-3760 ekor/ha dan zona rusak berat berkisar 1376-2564 ekor/ha. Tingkat persepsi masyarakat yang rendah terhadap kerusakan mangrove memberi dampak positif terhadap pengelolaan hutan mangrove sehingga hal ini seharusnya diikuti dengan kegiatan rehabilitasi.
The aim of this research are: (1) to study mangrove charateristic and level of mangrove forest damaged, (2) difference abundant of mud crab (Scylla serrata) on various zone of mangrove forest damaged and (3) level of community perception in the region of estuary at Somber Balikpapan. The methods used are transect line method and monitoring of mud crab (Scylla serrata) with removal data in a direct manner observation. Socialeconomic data obtained from secondary data and interviewed with used questionnaire. Data analysis used tabulation analysis and descriptive analysis. The result showed that the condition of mangrove forest in station I, Kariangau village on zonation 1 undamaged condition with 70 % crown cover, zonation 2 undamaged condition with 85 % crown cover, zonation 3 hard damaged with 5 % crown cover, zonation 4 undamaged condition with 65 % crown cover and zonation 5 light damaged with 50 % crown cover. In station II, Margomulyo and Batu Ampar villages on zonation 1 light damaged condition with 45 % crown cover, zonation 2 hard damaged condition with 10 % crown cover, zonation 3 hard damaged condition with 30 % crown cover, zonation 4 light damaged condition with 40 % crown cover and zonation 5 hard damaged with 25 % crown cover. Monitoring purpose in the field showed that there were different abundant of Scylla serrata on the mangrove forest damaged zones: 4102-5299 ind/ha on undamaged zones, light damaged zones was 2735-3760 ind/ha and 1376-2564 ind/ha on hard damaged zones. The low level of community perception on mangrove forest damaged give the positive impact to mangrove forest management so that should be followed by rehabilitation actions.
Kata Kunci : Lingkungan Hidup,Kerusakan Hutan Mangrove,Kepiting Bakau, Mangrove forest damaged, Scylla serrata, community perception.