Reproduksi Kelas Pekerja di Era Komersialisasi Pendidikan Tinggi: Studi Kasus Mahasiswa dari Kelas Pekerja Kerah Biru di Universitas Gadjah Mada(UGM)
Salma Yubdina Nur Laila, Dr. Muchtar Habibi., S.I.P., M.A., Ph.D
2025 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)
Penelitian ini menginvestigasi pola-pola reproduksi mahasiswa dari latar belakang kelas pekerja kerah biru dalam konteks komersialisasi pendidikan tinggi. Dengan studi kasus di UGM, penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan pola reproduksi antara mahasiswa kluster saintek dengan soshum. Selain perbedaan kluster, struktur dan jumlah tanggungan dalam rumah tangga juga membentuk pola-pola reproduksi mahasiswa. Ditemukan bahwa mahasiswa saintek menanggung beban biaya reproduksi pendidikan yang lebih besar dibandingkan mahasiswa soshum. Bagi mahasiswa saintek, mengandalkan pendapatan orang tua dan bantuan negara tidak cukup untuk mereproduksi dirinya, sehingga mereka masih harus mengkombinasikan dengan mekanisme reproduksi lain, seperti bekerja sampingan, melakukan self-exploitation, hingga berutang. Sebaliknya, bagi mahasiswa soshum, mengandalkan pendapatan orang tua dan bantuan negara relatif cukup untuk mereproduksi dirinya. Meski demikian, mahasiswa soshum juga terlibat dalam berbagai aktivitas reproduksi lain, seperti melakukan self-exploitation, bekerja sampingan, hingga mengandalkan bantuan jaringan/komunitas. Temuan penelitian ini menyoroti kesenjangan studi-studi mengenai pendidikan tinggi di Indonesia yang sebelumnya masih memisahkan antara studi tentang komersialisasi pendidikan tinggi—yang umumnya berfokus pada level makro tata kelola institusi; dan studi mahasiswa yang lebih banyak membahas dinamika gerakan mahasiswa dan politik kampus. Menggunakan kerangka reproduksi kelas, penelitian ini berkontribusi dalam menghubungkan kedua studi tersebut sekaligus memperkaya diskusi mengenai pola-pola reproduksi mahasiswa di perguruan tinggi.
This study investigates the reproduction patterns of students from blue-collar backgrounds in the context of the commercialization of higher education. Drawing on a case study at UGM, it demonstrates differences in reproduction patterns between students in science and technology and those in the social sciences and humanities. In addition to disciplinary differences, household structure and the number of dependents also influence students’ reproduction patterns. The study finds that science and technology students bear a greater burden of educational reproduction costs than their counterparts in the social sciences and humanities. For science and technology students, relying solely on parental and state assistance is insufficient; they must also employ other reproduction mechanisms, such as engaging in paid work, self-exploitation, or even taking on debt. Conversely, for social sciences and humanities students, parental income and state assistance are relatively sufficient to sustain their reproduction. Nonetheless, these students also participate in various other reproductive activities, including self-exploitation, paid work, and drawing on support from informal networks or communities. The findings of this study highlight a gap in studies on higher education in Indonesia, where previously studies on the commercialization of higher education—generally focused on the macro level of institutional governance—were separated from studies on studies on students, which mostly discussed the dynamics of student movement and campus politics. Using the class reproduction framework, this study contributes to linking the two studies while enriching the discussion on student reproduction patterns in higher education.
Kata Kunci : class reproduction, higher education, commercialization, neoliberalism