Laporkan Masalah

Internalisasi Nilai Spirtual Keris Jawa Studi pada Komunitas Pametri Wiji Yogyakarta

Ishlahurrachman Pratita, Dr. Suharman, M.Si.

2025 | Skripsi | Sosiologi

Keris merupakan sebuah senjata yang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Jawa. Ia adalah sebuah senjata tajam yang terasosiasi dengan aspek tradisi, fungsi sosial, filosofi dan spiritual masyarakat Jawa. Aspek spiritual dan mistik kemudian membuat keris menjadi sebuah senjata yang unik. Pengetahuan tentang nilai spiritualitas keris bersifat dinamis dan terus mengalami perubahan hingga sekarang. Saat ini masih terdapat komunitas kolektor keris yang mempertahankan cara pandang klasik terhadap keris yaitu Pametri Wiji. Fenomena bertahannya nilai spiritualitas keris di masa modern seperti sekarang adalah fokus utama dalam tulisan ini. 

Penelitian ini membahas mengenai bagaimana anggota Pametri Wiji menciptakan dan melakukan internalisasi nilai spiritual keris. Dengan menggunakan ritual theory dari Cathrine Bell dan Bentuk-Bentuk Dasar Kehidupan Beragama dari Emile Durkheim akan dibedah bagaimana sebuah benda bisa memiliki nilai spiritual. Kedua teori tersebut dipilih untuk melihat bagaimana nilai spiritualitas keris yang ternyata merupakan representasi dari nilai spiritualitas masyarakat Jawa itu sendiri. Titik sorot utama dalam pembahasan tersebut adalah ritual dan pembentukan keyakinan.

Dalam penelitian ini didapati bahwa nilai spiritual keris dapat dibentuk melalui ritual. Ada enam ritual utama keris yang masih dilakukan oleh para anggota Pametri Wiji yaitu siraman, sajen, tayuh, sinengker, pemberian nama, dan pertalian darah. Berbagai ritual tersebut dibentuk melalui ritualitasi dan formalisasi di masyarakat Jawa. Ritual kemudian menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan kepercayaan bagi para pemilik keris. Kepercayaan ini mempermudah munculnya nilai spiritual pada keris. Itu dikarenakan keris yang diritual kemudian menjadi benda sakral. Menjadi benda sakral juga berarti keris menempati dimensi yang berbeda dengan benda-benda keduniawian (profan). Ini adalah inti gagasan dari pembentukan nilai spiritual dalam keris.

Komunitas Pametri Wiji memiliki peran penting dalam melanggengkan nilai spiritual. Pametri Wiji didapati memiliki kapasitas yang baik dalam menyebarkan pengetahuan dan nilai keris. Hal tersebut dikarenakan Pametri Wiji memiliki medium penyebaran nilai berupa sarasehan dan konsep nyantrik. Konsistensi dalam melakukan kedua hal tersebut bisa membuat nilai bisa masuk ke diri para anggota. Selain itu, Pametri Wiji juga memiliki standar tersendiri dalam menilai keris. Ini membuat selera keris di kalangan para anggota menjadi cenderung sama. Dalam hal ini rasa juga menjadi representasi dari ideologi keris para informan.  Ditambah juga dengan refleksi supranatural para anggota yang mendorong nilai spiritual masuk di pemahaman para anggota. 

The keris is a traditional weapon with a long-standing presence in Javanese culture. More than just a blade, it embodies layers of tradition, social roles, philosophy, and spirituality within Javanese society. Its mystical and spiritual dimensions make the keris distinct among other weapons. The understanding of its spiritual value has evolved over time and remains dynamic to this day. Even in the modern era, there are still collector communities—such as Pametri Wiji—that preserve classical perspectives on the keris. This study focuses on how the spiritual values of the keris have persisted and adapted in contemporary society.

This research explores how members of Pametri Wiji construct and internalize the spiritual significance of the keris. Drawing on Catherine Bell’s ritual theory and Émile Durkheim’s Elementary Forms of Religious Life, the study examines how an object can acquire sacred and spiritual qualities. These frameworks reveal that the keris reflects the broader spiritual worldview of Javanese culture itself. Central to this analysis are the roles of ritual practice and belief formation.

Findings indicate that the spiritual meaning of the keris is cultivated through ritualization. Six key rituals are still performed within the Pametri Wiji community: siraman (ritual cleansing), sajen (offerings), tayuh (divination), sinengker (safekeeping), naming ceremonies, and bloodline consecration. These practices are formalized and embedded within Javanese cultural traditions, serving as effective means of strengthening faith among keris owners. Through ritual, the keris becomes sacralized, distinguished from ordinary profane objects—a core concept in understanding its spiritual value.

Pametri Wiji also have a crucial role in sustaining and transmitting these values. The community actively disseminates knowledge and traditions related to the keris through forums such as sarasehan (discussion gatherings) and the nyantrik (apprenticeship) model. Consistent engagement in these practices facilitates the internalization of keris values among its members. Moreover, Pametri Wiji has established its own standards for evaluating keris, shaping members’ aesthetic and ideological preferences. This shared taste, combined with members’ supernatural reflections and experiences, further reinforces the spiritual dimension of the keris in their understanding.

Kata Kunci : Keris, Spiritualitas Jawa, Ritual, Komunitas

  1. S1-2025-443243-abstract.pdf  
  2. S1-2025-443243-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-443243-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-443243-title.pdf