Laporkan Masalah

Proses Pengorganisasian Masyarakat dalam Pengembangan Petani Milenial (Studi pada Kelompok Taruna Tani Manunggal di Dusun Nawungan, Kelurahan Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul)

Nurul Islami Uswatun Khasanah, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si.

2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI

Persoalan ketimpangan demografi sumber daya manusia pertanian antara petani usia tua dengan usia muda menjadi tantangan bagi keberlanjutan pertanian yang di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dari jumlah populasi petani usia tua yang lebih banyak daripada jumlah populasi petani usia muda. Situasi ini memerlukan adanya perhatian dan penanganan baik dari pihak pemerintah maupun dari masyarakat itu sendiri. Kelompok Taruna Tani Manunggal merupakan salah satu bentuk respon yang berasal dari komunitas akar rumput atau masyarakat atas permasalahan regenerasi petani. Upaya ini dilakukan melalui pengorganisasian petani-petani berusia muda atau berjiwa milenial yang ingin belajar dan berkembang dalam bidang pertanian.

Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode kualitatif deskriptif yang ditujukan untuk melihat gambaran kronologis mengenai proses pengorganisasian terhadap petani-petani milenial di Dusun Nawungan. Data penelitian diambil berdasarkan sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan secara langsung melalui hasil wawancara kepada 6 orang pengorganisir Kelompok Taruna Tani Manunggal, 4 orang pengurus Kelompok Taruna Tani Manunggal, dan 3 orang anggota Kelompok Taruna Tani Manunggal. Sementera itu, data sekunder didapatkan dari dokumen profil Kelompok Taruna Tani Manunggal, jurnal, artikel berita, dan tayangan media online terkait. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam peelitian ini dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian, teknik pengolahan data dilakukan dengan melakukan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Selanjutnya, data yang didapatkan diuji keabsahannya melalui uji triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

Berdasarkan hasil temuan penelitian, diketahui bahwa proses pengorganisasian Kelompok Taruna Tani Manunggal melalui enam tahapan proses, yakni tahap pendekatan, tahap perumusan strategi, tahap fasilitasi proses, tahap penataan organisasi, tahap pengerahan tindakan, dan tahap pembentukan sistem pendukung. Berdasarkan tahapan yang dilalui, pengorganisiasn Kelompok Taruna Tani Manunggal memiliki model pendekatan barupa pengembangan lokalitas (locallity development) yang berbasis pada karakteristik masyarakat yang homogen. Model pendekatan ini didapatkan dari hasil analisis melalui 12 aspek karakteristik model pendekatan pengorganisasian berdasarkan tujuan tindakan, asumsi terhadap struktur masyarakat, strategi perubahan dasar, karakteristik taktik dan teknik perubahan, peran praktisi, media perubahan, orientasi terhadap struktur kekuasaan, batasan penerima manfaat pengorganisasian, asumsi kepentingan, konsepsi penerima manfaat pengorganisasian, konsepsi peran penerima manfaat pengorganisasian, dan pengunaan pada pemberdayaan masyarakat. Masing-masing tahapan memiliki dinamika tersendiri dengan kendala dan tantangan yang dihadapi oleh Kelompok Taruna Tani Manunggal. Kendala yang dihadapi berasal dari faktor internal dan faktor eksternal, seperti komitemen dari anggota kelompok, manajemen kepengurusan, dan kondisi perubahan cuaca. Selain itu, terdapat tantangan kelompok, seperti penumbuhan partisipasi dan penguatan kelembagaan.

The problem of demographic inequality in agricultural human resources between old and young farmers is a challenge for the sustainability of agriculture in Indonesia. This is presented by the fact that the older farmer population outnumbers the younger one. This situation requires attention and management from both the government and the community itself. The Taruna Tani Manunggal group is a grassroots community initiative addresing the issues of farmer regeneration. This effort is carried out by organizing young farmers that also known as millennials who want to learn and develop in the agricultural sector.

This research uses descriptive qualitative method to describe the chronological picture of the organizing process for millennial farmers in Nawungan. The research data is taken based on primary data sources and secondary data sources. The primary data that used in this study were obtained directly through interviews with 6 organizers of Taruna Tani Manunggal group, 4 administrators of Taruna Tani Manunggal group, and 3 members of Taruna Tani Manunggal group. While, the secondary data were obtained from Taruna Tani Manunggal group document, journals, news articles, and related online media. The data collection techniques in this study are carried out through observation, interviews, and documentation. The data processing techniques used through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Then, the validity of the collected data was tested through source and technique triangulation.

Based on the results, it is known that the process of organizing the Taruna Tani Manunggal group went through six stages there are approach stage, strategy formulation stage, process facilitation stage, organizational structuring stage, action mobilization stage, and support system formation stage. Based on the stages, the Taruna Tani Manunggal group has an approach model in the form of locality development which is based on the characteristics of a homogeneous community. This approach model is presented from the results of analysis through 12 aspects of the characteristics of the organizational approach model based on the goal categories of community action, assumptions concering community structure and problem condition, basic change strategy, characteristik of change tactic and technique, salient practitioner roles, medium of change, the orientation toward power structures, bundary definition of the beneficiary system, assumtion regarding interest of community subparts, conception of beneficaries, conception of beneficaries role, and use of empowerment. Each stage has its own dynamics with obstacles and challenges faced by millennials farmers in Taruna Tani Manunggal group. The obstacles faced come from internal and external factors, such as commitment from group members, management, and changing weather conditions. Then, there are group challenges, such as growing participation and strengthening institutions.

Kata Kunci : Pengorganisasian Masyarakat, Petani Milenial, Kelompok Tani

  1. S1-2025-443185-abstract.pdf  
  2. S1-2025-443185-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-443185-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-443185-title.pdf