Fenomena Calon Tunggal Dalam Pemilihan Kepala Daerah Serentak Tahun 2024 Di Kota Pangkalpinang Dan Kabupaten Bangka Selatan, Serta Pengaruhnya Terhadap Partisipasi Pemilih
Shifa Arandita, Dr. Yance Arizona, S.H., M.H., M.A.,
2025 | Skripsi | ILMU HUKUM
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) merupakan sarana penting dalam memperkuat nilai demokrasi di tingkat lokal. Namun, pelaksanaan Pilkada Serentak 2024 diwarnai dengan meningkatnya jumlah daerah yang hanya memiliki satu pasangan calon, termasuk di Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka Selatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana pemilihan kepala daerah dengan calon tunggal berpengaruh terhadap terbentuknya gerakan pendukung kotak kosong dan juga terhadap partisipasi masyarakat untuk memilih.
Metode yang digunakan adalah yuridis-empiris dengan pendekatan deskriptif-kualitatif, melalui analisis peraturan perundang-undangan, putusan Mahkamah Konstitusi, peraturan dan keputusan yang dikeluarkan oleh KPU serta wawancara dengan penyelenggara pemilu dan masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertama, secara sosial-politik, fenomena calon tunggal ini menimbulkan resistensi masyarakat melalui gerakan “Relawan Kotak Kosong” yang menolak dominasi elite politik. Kedua, Partisipasi pemilih di daerah dengan calon tunggal cenderung lebih rendah dibandingkan daerah dengan lebih dari satu calon. Dengan demikian, diperlukan penguatan kaderisasi partai politik dan sosialisasi KPU agar partisipasi publik meningkat.
Regional Head Elections (Pilkada) are an important means of strengthening democratic values at the local level. However, the implementation of the 2024 Simultaneous Regional Elections has been marked by an increase in the number of regions that only have one candidate pair, including in the city of Pangkalpinang and the district of South Bangka. This study aims to analyze how regional head elections with a single candidate influence the formation of movements supporting blank ballots and also affect public participation in voting.
The method used is juridical-empirical with a descriptive-qualitative approach, through analysis of legislation, Constitutional Court decisions, regulations and decisions issued by the General Elections Commission (KPU), and interviews with election organizers and the community.
The results of the study show that, first, socio-politically, the phenomenon of single candidates has led to public resistance through the “Blank Box Volunteers” movement, which rejects the dominance of the political elite. Second, voter participation in regions with single candidates tends to be lower than in regions with more than one candidate. Thus, it is necessary to strengthen political party regeneration and KPU socialization in order to increase public participation.
Kata Kunci : Pilkada Serentak 2024, calon tunggal, Gerakan kotak kosong, partisipasi pemilih.