Resiliensi oleh Eksklusi: Bahasa Nias pada Komunitas Desa Ujung Sialit, Pulau Banyak Barat, Aceh
Fida Afra' Effendi, Dr. Sita Hidayah, S.Ant., M.A.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Komunitas Nias di Desa Ujung Sialit, Kecamatan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, menghadirkan persoalan linguistik yang menarik dalam konteks masyarakat diaspora. Sebagai komunitas yang telah lama menetap di wilayah Aceh yang sangat kental dengan latar budaya, agama, dan bahasa yang berbeda dari identitas komunitas Nias, bahasa Nias tetap digunakan secara aktif dalam kehidupan sehari-hari lintas generasi. Ketahanan ini berlangsung tanpa dukungan pelestarian maupun intervensi kelembagaan, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme sosial yang memungkinkan keberlangsungan bahasa minoritas tersebut. Studi ini berupaya memahami bagaimana proses tersebut berlangsung dan faktor yang memungkinkan terjadinya resiliensi bahasa Nias di komunitas Desa Ujung Sialit dengan mennggunakan teori batas simbolik milik Barth. Penelitian ini berbentuk kualitatif dengan metode penelitian etnografi. Proses pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni 2024 hingga Agustus 2024 dengan melalui observasi partisipasi dan wawancara dengan tokoh masyarakat, pemerintah desa, dan masyarakat. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa eksklusi, yang umumnya dipandang sebagai faktor penghambat perkembangan komunitas, dalam konteks Ujung Sialit justru berperan sebagai benteng pelindung bagi kelestarian bahasa minoritas. Batas simbolik yang terbentuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pemeliharaan bahasa, di mana bahasa sebagai penanda batas simbolik menjadi mekanisme resiliensi bahasa. Dengan demikian, resiliensi bahasa Nias di Ujung Sialit adalah hasil dari perpaduan antara praktik kebahasaan yang konsisten, transmisi antargenerasi yang tidak terputus, faktor geografis serta eksklusi sosial yang memperkuat batas identitas dan solidaritas kelompok.
The Nias community in Ujung Sialit Village, Pulau Banyak Barat Subdistrict, Aceh Singkil Regency, Aceh Province, presents an intriguing linguistic phenomenon within the context of a diaspora society. As a community that has long settled in Aceh, a region with cultural, religious, and linguistic backgrounds different from the identity of the Nias community, the Nias language continues to be actively used in everyday life across generations. This resilience occurs without the support of preservation programs or institutional interventions, raising questions about the social mechanisms that enable the continuity of this minority language. This study seeks to understand how such processes occur and the factors that facilitate the resilience of the Nias language in the Ujung Sialit community, employing Barth’s theory of symbolic boundaries. This research adopts a qualitative approach with an ethnographic research method. Data collection was conducted from June 2024 to August 2024 through participant observation and interviews with community leaders, village officials, and residents. The findings of this study indicates that exclusion, which is generally considered a hindrance to community development, in the context of Ujung Sialit, functions as a protective barrier for the preservation of the minority language. The symbolic boundaries formed create a conducive environment for language maintenance, wherein language, as a marker of symbolic boundaries, operates as a mechanism of linguistic resilience. Accordingly, the resilience of the Nias language in Ujung Sialit results from a combination of consistent language practices, uninterrupted intergenerational transmission, geographical factors, and social exclusion that reinforce group identity and solidarity.
Kata Kunci : resiliensi bahasa, bahasa Nias, eksklusi, Barth/ language resilience, Nias Language, exclusion, Barth