Kehidupan sosial rumah batu di tengah politik distribusi Desa Jeruk Manis, Kabupaten Lombok Timur
Aurelius Aquila Tapiheru, Dr. Agung Wicaksono S.Ant., M.A.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Sampai saat ini, penghidupan masyarakat Desa Jeruk Manis, Kabupaten Lombok Timur cenderung berpusat pada kegiatan migrasi dan praktik remitansi. Opsi penghidupan yang terbatas di desa membuat mereka mencari pekerjaan sampai ke kancah internasional. Namun, remitansi mereka seringkali dihabiskan untuk membangun rumah atau memperluasnya sehingga menutup kemungkinan pembangunan usaha pembukaan peluang ekonomi di desa. Praktik ini bertolak belakang dengan klaim-klaim yang cenderung mendukung skema migrasi sebagai katalis pembangunan desa. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap alasan pekerja migran Desa Jeruk Manis menghabiskan sebagian besar penghasilan mereka untuk membangun rumah.
Argumen dibangun melalui data makro dan mikro. Data makro diperoleh dari sumber-sumber sekunder seperti statistik dan teks sejarah. Data ini digunakan untuk mendeskripsikan konteks makro perpindahan penduduk Lombok Timur. Kedua, terkait data mikro, data diperoleh melalui etnografi di Desa Jeruk Manis, Kabupaten Lombok Timur. Penelitian etnografi dilaksanakan selama satu bulan dan melibatkan sembilan informan kunci. Metode wawancara mendalam serta observasi partisipasi digunakan untuk mengumpulkan data di Desa Jeruk Manis. Data yang terkumpul kemudian dianalisis melalui pendekatan "kehidupan sosial komoditas" dan "politik distribusi."
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa praktik pembangunan rumah yang menghabiskan hampir seluruh penghasilan perantauan memiliki logika mendasarnya tersendiri. Logika ini terbentuk dari konteks masyarakat Jeruk Manis yang bermigrasi karena menjadi bagian dari surplus pekerja di Lombok. Kondisi ini menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap remitansi pekerja migran. Kemudian, di dalam kondisi minimnya opsi penghidupa atau opsi mencari uang, pembagunan rumah dapat dilihat sebagai upaya pekerja migran menjaga uang, mengontrol, dan memusatkannya pada konsumsi yang menunjang kehidupan dan penghidupan rumah tangga. Dalam kerangka yang lebih luas, penelitian ini menunjukkan bahwa skema pembangunan desa melalui remitansi--yang membingkai migrasi sebagai katalis pembangunan--belum mempertimbangkan kondisi-kondisi partikular yang mendikte pengelolaan remitansi pekerja migran.
To this day, villager's livelihood in Jeruk Manis village, East Lombok regency is still centered around migration and remittance. Limited livelihood options force them to look for work internationally. However, they often used their remittance to build or expand brick houses. This practice closed their chances to build businesses and open economic opportunities in the village. In a larger framework, this practice also contradicts claims that supported the migration scheme as a catalyst of development in the village. Therefor, this research intends to uncover the reason migrant workers from Jeruk Manis village spend most of their earnings to build brick-houses.
The argument of this research is built upon macroscopic and microscopic data. Macroscopic data is collected through secondary sources such as statistics and historical texts. This form of data is then used to describe the macroscopic context of the mobility of East Lombok's villagers. Next, microscopic data is collected through ethnographic research in Jeruk Manis village, East Lombo regency. The ethnographic research was done over a month, involving nine key informants. In-depth interview and participant-observation were used to collect data. The collected data were then analyzed using the "social life of things" and "politics of distribution" approaches.
The findings of this research shows that brick-house building--that uses most of migrants earnings--has its own underlying logic. This logic is rooted in the context of labour surplus and high numbers of migrant workers in Jeruk Manis village. This condition creates community dependence on remittances from migrant workers. Furthermore, in the condition of limited livelihood or income-earning options, brick house building can be seen as a migrant's effort to protect their money, control it, and concentrate it towards an act of consumption that supports life and livelihood of the household. On a larger framework, this research shows that the "rural development from remittance" scheme--which frames migration as a development catalyst--has not considered the particular conditions that dictate migrant worker's management of their remittance.
Kata Kunci : Migrasi, remitansi, rumah batu, kehidupan sosial komoditas, politik distribusi