Analisis Indeks Kualitas Tanah pada Berbagai Sudut Lereng di bawah Tegakan Teh pada Blok Pemandangan Kebun Teh Tambi, Wonosobo
Rizka Zihni Ramadhani, Nur 'Ainun Harlin Jennie Pulungan, S.Si., M.Sc., Ph.D.
2025 | Skripsi | ILMU TANAH
Penggunaan lahan berupa perkebunan teh jangka panjang dapat mempengaruhi
karakteristik sifat tanah, baik secara fisika, kimia, dan biologi. Selain itu,
faktor pembatas berupa topografi menjadi penentu kualitas dan kesehatan tanah
pada lahan budidaya tanaman teh. Penelitian ini ditujukan untuk memetakan hasil
nilai indeks kualitas tanah di Unit Perkebunan Teh Tambi Blok Pamandangan yang
didasarkan pada kelas kemiringan lereng (0-8%, 8-15%, 15-25%, 25-45%, dan
>45%) agar dapat memudahkan arahan pengelolaan lahan yang tepat secara
spasial. Sampel tanah yang diambil sejumlah 42 titik yang tersebar merata
sesuai luas wilayah lereng. Penilaian indeks kualitas tanah dilakukan melalui 3
tahapan, yaitu pemilihan indikator atau Minimum
Data Set (MDS), interpretasi indikator terpilih, dan integrasi indikator.
Terdapat 10 indikator yang termasuk dalam MDS, yaitu sifat fisika (tekstur,
berat volume, porositas), sifat kimia (pH H2O, C-organik, KPK,
N-total, P-tersedia, K-tersedia), dan sifat biologi (respirasi tanah). Hasil
menunjukkan bahwa skor indeks kualitas tanah pada tiap lereng berkisar 31,2 -
33 yang termasuk dalam harkat sedang, sehingga peta indeks kualitas tanah pada
tiap kemiringan lereng disajikan dalam warna yang homogen. Hasil tersebut
didukung oleh hasil uji statistik secara non parametrik (Kruskal Wallis) dengan
uji lanjut Dunn’ Test yang menyatakan tidak adanya
perbedaan signifikan antara indeks kualitas tanah dengan kemiringan lereng.
Adanya kesamaan harkat pada tiap lereng diduga karena pengaruh morfologi
tanaman teh (akar dan tajuk), sistem pengolahan tanah, dan sistem konservasi
lahan yang diterapkan pihak perkebunan. Disamping itu, parameter yang berperan
mempengaruhi nilai indeks kualitas tanah adalah P-tersedia, pH H2O,
porositas, dan C-organik. Parameter tersebut dapat dijadikan acuan untuk arahan
perbaikan kualitas tanah selanjutnya.
The use of land for long-term tea plantations can
affect soil characteristics, both physically, chemically, and biologically. In
addition, limiting factors such as topography determine the quality and health
of soil in tea cultivation areas. This study aims to map the results of soil
quality index values in the Tambi Tea Plantation Unit, Pamandangan Block, based
on slope gradient classes (0-8%, 8-15%, 15-25%, 25-45%, and >45%) to
facilitate spatially appropriate land management guidance. Soil samples were collected
from 42 points distributed evenly across the slope area. Soil quality index
assessment was conducted through a three-step: selection of indicators or
Minimum Data Set (MDS), interpretation of selected indicators, and integration
of indicators. There are 10 indicators included in the MDS, namely physical
properties (texture, bulk density, porosity), chemical properties (pH H?O,
organic carbon, total nitrogen, available phosphorus, available potassium), and
biological properties (soil respiration). The results show that the soil
quality index scores for each slope range from 31.2 to 33, which falls within
the moderate category. Therefore, the soil quality index map for each slope
gradient is presented in a homogeneous color. These results are supported by
non-parametric statistical tests (Kruskal-Wallis) with Dunn's post-hoc test,
which indicate no significant differences in soil quality index between slope
gradients. The similarity in quality across slopes is likely due to the
influence of tea plant morphology (roots and canopy), soil cultivation systems,
and land conservation systems implemented by the plantation. Additionally, the
parameters influencing soil quality index values are available phosphorus (P),
pH in water, porosity, and organic carbon (C). These parameters can serve as
guidelines for future soil quality improvement efforts.
Kata Kunci : indeks kualitas tanah, kelerengan, pengelolaan lahan, tanaman teh