Perkembangan permukiman kumuh di kota Yogyakarta tahun 1970-2000
Djaka Marwasta, Drs. Su Ritohardoyo, M.A.
2001 | Tesis | S2 Ilmu LingkunganINTISARI Permukiman kumuh sampai sekarang masih merupakan permasalahan penting bagi kota-kota terutama di negara sedang berkembang. Namun demikian, luasan maupun agihannya semakin meningkat. Penelitian ini mengkaji perkembangan permukiman kumuh di Kota Yogyakarta antara tahun 1970-2000 dengan penekanan pada perkembangan spasial dan aspek lingkungan budaya. Tujuan penelitian ini meliputi (1) mengkaji perubahan luas dan sebaran permukiman kumuh antara tahun 1970-2000, (2) mengkaji proses perkembangan permukiman kumuh, dan (3) mengkaji kondisi sosial ekonomi penghuni permukiman kumuh di daerah penelitian. Agihan setiap kategori permukiman disadap dari hasil interpretasi foto udara skala besar perekaman tahun 1973, 1981, 1987, dan 1996. Perubahan luas dan sebaran masing-masing kategori kekumuhan permukiman dianalisis m.enggunakan teknik tumpangsusun peta menggunakan Sistem Informasi Geografis,. Gambaran kondisi sosial ekonomi penghuni dikumpulkan menggunakan metode penelitian survei. Responden dipilih secara acak distratifikasi berdasarkan unit permukiman. Kekumuhan permukiman ditentukan berdasarkan harkat total dari 15 variabel terpilih meliputi kepadatan, ukuran, dan keteraturan bangunan rumah, aksesibilitas, kondisi jalan, bahaya banjir, konsumsi air. sanitasi, saluran limbah, pembuangan sampah, permanensi, jenis lantai dan atap, ventilasi, kondisi ruang, dan halaman. Penelitian ini menggunakan analisis table silang untuk mengkaji hasil wawancara. Dari hasil penelitian ditunjukkan bahwa pertambahan luas permukiman sangat kumuh di Kota Yogyakarta antara tahun 1970-2000 sebesar 74,4 hektar (18,1%), permukiman kumuh seluas 47,6 hektar (11,6%), dan permukiman agak kumuh 131,1 hektar (32,1%). Namun demikian, perkembangan permukiman kumuh di darah penelitian masih tergolong tipe "continuous process", yaitu prosesnya berlangsung secara lambat dan dalam waktu relatif lama. Densifikasi permkiman dan penuaan bangunan rumah merupakan dua faktor utama yang menyebabkan pertambahan permukiman kategori kumuh dan sangat kumuh. Secara spasial; agihan permukiman kumuh dan sangat kumuh berasosiasi dengan keberadaan sungai yang relatif dekat dengan pusat kota, disamping ada sedikit unit permukiman kumuh yang agihannya berasosiasi dengan keberadaan rel kereta api. Penelitian ini juga menemukan karakteristik sosial ekonomi penghuni permukiman kumuh dan sangat kumuh, yaitu umumnya berpendidikan rendah, penghasilan keluarga rendah, bekerja pada sektor informal, dan rumah yang ditempatinya adalah rumah sewaan.
ABSTRACT Slum, a dwelling that is statutorily unfit for human habitation, is still the big problem in, especially, cities of developing countries. This research examines the development of slums in Yogyakarta City along 1970-2000, and it's merely focused on spatial and socio-ecological development. The aims of this research are (1) to identify the extent and distribution of slum, (2) to analyze the development process of slum, and (3) to study the socio-economic characteristics of slum dwellers in the study area. Distribution of slum was taken from interpretation of time-series aerial photos. Using Geographic Information System, the change of extent and distribution of slum was analyzed. To obtain the socio-economic characteristics of slum dwellers, the survey method was chosen. The respondents are selected incidentally stratified among head of household who represent each settlement units. Qualities of settletnent were determined by total score of 15 selected variables, namely density, size, and housing layout, accessibilities, condition of road, flood danger, water consumption, sanitation, drainage system, waste management, building permanency, type of roof and floor, ventilation, room allocation, and condition of yard. The result shows that the first category of slum increased 74,4 hectares from year 1970 to 2000, the second category increased 47,6 hectares, and the third 131,1 hectares. Nevertheless, the process of slum development in Yogyakarta City includes in "continuous process" type, which take place slowly and long period of creation. Densification and aging process are two of the main causes of slum expansion. A river that is in the city center drove distributions of slum unit. According to this research, it's found out that the slum dwellers are characterized by the people who had low income and education, working in the informal sector, and live in renting house.
Kata Kunci : Permukiman Kumuh, Kota Yogyakarta, Perkembangan Permukiman