Laporkan Masalah

Tanggapan Produktivitas dan Mutu teh (Camellia sinensis L.) Terhadap Dua Model Pemangkasan

Fitria Adiningsih, Eka Tarwaca Susila Putra., S.P., M.P., Ph.D ; Rani Agustina Wulandari, S.P., M.P., Ph.D.

2025 | Skripsi | AGRONOMI

Penurunan produksi teh menjadi permasalahan yang serius karena disebabkan alih fungsi lahan, defisiensi hara, cuaca ekstrim dan serangan hama-penyakit tanaman teh. Peningkatan produktivitas dapat ditingkatkan jika dilakukan perawatan yang tepat salah satunya dengan pemangkasan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji perbedaan tingkat produktivitas dan mutu pucuk diantara pemangkasan existing dan pemangkasan inovasi. Penelitian dilakukan pada Desember 2024 – Februari 2025 di Desa Pacet, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Model Pemangkasan yang diuji ada dua yaitu pemangkasan model inovasi dan pemangkasan model existing dan hasil akan dianalisis dengan uji statistik T (Uji-T) pada signifikansi 5%. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa model pemangkasan inovasi dan existing menunjukan perbedaan hasil secara nyata, dengan model inovasi menunjukkan hasil yang lebih baik pada parameter jumlah cabang sekunder (89,08);  diameter cabang sekunder (7,15 cm); serta parameter produktivitas pada siklus panen ke-1 dan ke-2 meliputi, jumlah pucuk total (251,04 dan 344,46); bobot segar pucuk peko (112,45 g/m2 dan 43,48 g/m2); bobot segar pucuk total (522,40 g/m2 dan 373,64 g/m2); bobot kering pucuk burung (53,34 g/m2 dan 49,99 g/m2); bobot kering pucuk total (105,84 g/m2 dan 75,70 g/m2).  Sedangkan model existing menunjukkan hasil yang lebih baik pada parameter kualitas meliputi, proporsi jumlah peko pada siklus panen ke-2 (42,52%); proporsi bobot kering peko (38,91 %) dan kadar katekin (12,85 mg/L). Model pemangkasan inovasi menunjukkan hasil produktifitas satu tahun yang secara nyata lebih besar (5,45 ton/ha/tahun) dibandingkan dengan model existing (1,31 ton/ha/tahun), meskipun perlu dilakukan peningkatan manajemen budidaya tanaman untuk meningkatkan mutu hasil.

The decline in tea (Camellia sinensis L.) production has become a serious issue, driven by land-use change, nutrient deficiencies, extreme weather, and pest and disease outbreaks. Increasing productivity can be achieved through proper management, including effective pruning techniques. This study aimed to evaluate differences in productivity and shoot quality between the existing pruning model and an innovative pruning model. The research was conducted from December 2024 to February 2025 in Pacet Village, Reban Subdistrict, Batang Regency, Central Java Province. Two pruning models were tested—innovative and existing—and the results were analyzed using a T-test at a 5% significance level. The results revealed significant differences between the two models. The innovative pruning model showed superior performance in secondary branch number (89.08), secondary branch diameter (7.15 cm), and productivity parameters during both harvest cycles, including total shoot number (251.04 and 344.46), fresh weight of peko shoots (112.45 g/m² and 43.48 g/m²), total fresh shoot weight (522.40 g/m² and 373.64 g/m²), dry weight of tea bud (53.34 g/m² and 49.99 g/m²), and total dry shoot weight (105.84 g/m² and 75.70 g/m²). In contrast, the existing model showed better performance in shoot quality, with higher proportions of peko shoots in the second harvest cycle (42.52%), dry weight proportion of peko shoots (38.91%), and catechin content (12.85 mg/L). The annual productivity of the innovative pruning model was significantly higher (5.45 tons/ha/year) than that of the existing model (1.31 tons/ha/year), although improved cultivation management is still needed to enhance shoot quality.

Kata Kunci : Teh, Produktivitas, Pemangkasan, Inovasi, Existing

  1. S1-2025-478060-abstract.pdf  
  2. S1-2025-478060-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-478060-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-478060-title.pdf