Pengaruh Pemberian Lignobond Pada Level Yang Berbeda Terhadap Kualitas Fisik, Kimia, Dan Organoleptik Pelet Berbasis Fermentasi Ekskreta Ayam
Alif Ahsan Maulana, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA, DEA., IPU., ASEAN Eng. ; Ir. Dimas Hand Vidya Paradhipta, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPP.
2025 | Skripsi | ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan level penggunaan lignobond sebagai binder terhadap kualitas fisik dan kimia pelet berbasis fermentasi ekskreta ayam dan maggot kering. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekskreta ayam segar 59,5%, maggot kering 25%, onggok 10,5%, dan molases. Ekskreta ayam yang digunakan adalah pada fase layer. Proses fermentasi dilakukan dengan menggunakan tambahan inokulan komersil yaitu Saus burger pakan (SBP). Campuran ekskreta ayam dengan bahan pakan lainnya difermentasi selama 3 hari dalam kondisi semi anaerob. Setelah difermentasi ekskreta dicampurkan dengan lignobond pada level yang berbeda yaitu: 0,1% (L1), 0,25% (L2), dan 0,5% (L3). Sebanyak 2 kg adonan pelet diproduksi pada masing-masing perlakuan dengan menggunakan 3 kali replikasi. Adonan pelet yang telah terbentuk dikeringkan di bawah sinar matahari selama 3 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan L2 dan L3 menghasilkan panjang pelet yang lebih rendah daripada perlakuan L1 (p<0>lignobond pada berbagai level tidak berpengaruh terhadap kualitas fisik pelet, hardness, dan pellet durability index. Analisis modulus of uniformity dan modulus of fineness menunjukkan bahwa penambahan lignobond baik pada L2 dan L3 meningkatkan keseragaman partikel pada tingkat kehalusan kasar dan menghasilkan derajat kehalusan yang lebih rendah dibandingkan dengan L1 (p>0,05). Secara umum penambahan lignobond yang semakin tinggi dapat memperbaiki warna dan mengurangi kontaminasi jamur secara deskriptif. Selain itu, semakin tinggi level penggunaan lignobond cenderung menghasilkan nilai bahan kering, bahan organik, dan lemak kasar yang lebih rendah secara deskriptif. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan L2 menghasilkan pelet dengan kualitas fisik dan kimia yang baik. Pelet ini tidak hanya memenuhi standar nutrisi terutama protein kasar, tetapi juga memiliki integritas fisik yang unggul untuk penanganan dan penyimpanan. Oleh karena itu, level lignobond 0,25% direkomendasikan untuk formulasi pelet berbasis fermentasi ekskreta ayam.
This study aimed to determine the effect of different levels of Lignobond as a binder on the physical and chemical quality of pellets based on fermented layer chicken excreta and dried maggot. The materials used were fresh chicken excreta (59.5%), dried maggot (25%), tapioca byproduct (onggok) (10.5%), and molasses. The excreta was fermented for 3 days in a semi-anaerobic condition using a commercial inoculant (Saus Burger Pakan). After fermentation, the mixture was combined with Lignobond at different levels: 0.1% (L1), 0.25% (L2), and 0.5% (L3). For each treatment, 2 kg of pellet dough was produced with three replications. The formed pellets were sun-dried for 3 days. The results showed that treatments L2 and L3 resulted in significantly shorter pellet lengths compared to L1 (p<0>0.05). Descriptively, a higher level of Lignobond generally improved color and reduced mold contamination. Furthermore, higher levels of Lignobond tended to result in descriptively lower values of dry matter, organic matter, and crude fat. Based on the findings, it can be concluded that treatment L3 (0.5% Lignobond) produced pellets with the best overall physical and chemical quality. These pellets not only met nutritional standards, particularly for crude protein (33.9%), but also exhibited superior physical integrity for handling and storage. Therefore, a Lignobond level of 0.25% is recommended for the formulation of pellets based on fermented poultry manure.
Kata Kunci : Ekskreta, Fermentasi, Kualitas fisik, Kualitas kimia, Maggot, Pelet