Pemetaan Kawasan Kerawanan Bencana Tanah Longsor Di Kabupaten Klaten Berbasis Sistem Informasi Geografis
Bias Rambu Suchinta, Dr. Ir. Diyono, S.T., M.T., IPU.
2025 | Skripsi | TEKNIK GEODESI
Kabupaten Klaten menjadi wilayah
dengan kejadian bencana alam terbanyak di Jawa Tengah pada tahun 2023, yaitu 55
dari 629 kejadian. Kondisi topografi yang berada di antara lereng Gunung Merapi
dan Pegunungan Seribu menjadikan daerah
ini rawan bencana, khususnya tanah longsor, yang meningkat tajam pada 2022 dan
2023. Bencana ini menyebabkan kerugian materi dan korban jiwa, sehingga perlu
dilakukan upaya mitigasi melalui penyusunan peta kerawanan tanah longsor sebagai
dasar pengurangan risiko. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun peta kawasan
kerawanan tanah longsor berdasarkan analisis geospasial, mengklasifikasikan
tingkat kerawanan per kecamatan, serta mengembangkan platform WebGIS sebagai
media visualisasi peta.
Metode analisis yang digunakan
dalam pemetaan kerawanan bencana tanah longsor ini mengacu pada PERMEN PU No.
22/PRT/M/2007, dengan penyesuaian berdasarkan RBI (Risiko Bencana Indonesia)
BNPB Tahun 2016. Pembobotan dilakukan berdasarkan dua aspek utama, yaitu aspek
fisik alam dan aktivitas manusia. Parameter yang digunakan meliputi geologi
(batuan penyusun lereng), jenis tanah, penutup lahan (vegetasi), curah hujan,
kemiringan lereng, kepadatan penduduk, dan infrastruktur. Visualisasi hasil
pengolahan peta berbasis web memanfaatkan plugin QGIS2Web untuk pembuatan
webmap dan dirancang menggunakan framework Boostrap.
Hasil akhir berupa peta raster
yang diklasifikasikan ke dalam tiga kelas kerawanan rendah, sedang, dan tinggi.
Validasi dilakukan dengan menggunakan data kejadian tanah longsor aktual tahun
2020-2024 per kecamatan, dan diperoleh nilai Overall Accuracy sebesar 81.63 % .
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa kerawanan tinggi tersebar di wilayah utara,
timur, dan barat laut, terutama di Kecamatan Kemalang, Bayat, Juwiring,
Karangdowo, Gantiwarno, dan Wonosari dengan total luas 2.130,11 ha (3.05 %).
Kelas kerawanan sedang mendominasi wilayah Kabupaten Klaten dengan luas
mencapai 507.022.847,42 m² atau 50.702,28 ha (72,45?ri total wilayah).
Sementara itu, kelas kerawanan rendah mencakup luas 17.135,38 ha atau sekitar
24,50?ri total wilayah. Kecamatan
Kemalang memiliki cakupan kerawanan terluas, yaitu 708.23 ha (1,01%), dilanjut
Kecamatan Juwiring 380,79 hektar (0,54%), Wonosari seluas 244,92 hektar
(0,35%), Bayat seluas 297,29 hektar (0,42%), Karangdowo seluas 273,35 hektar
(0,39%), dan Gantiwarno seluas 57,35 hektar (0,08%). Seluruh hasil pengolahan
divisualisasikan dalam bentuk peta berbasis WebGIS, yang dapat diakses melalui
tautan https://biasrsch03.github.io/RawanLongsorKabupatenKlaten/. Berdasarkan
uji usabilitas sistem, diperoleh skor 84.71% , yang termasuk dalam kategori
baik.
Klaten Regency was the
region with the highest number of natural disasters in Central Java in
2023, with 55 of 629 incidents. Its topography, located between the
slopes of Mount Merapi and the Seribu Mountains, makes this area
prone to disasters, particularly landslides, which increased sharply in
2022 and 2023. These disasters cause material losses and loss of life,
necessitating mitigation efforts through landslide vulnerability mapping
as a basis for risk reduction. This study aims to compile a landslide
vulnerability map based on geospasial analysis, classifying
vulnerability levels by sub-district, and developing
a WebGIS platform for map visualization.
The analytical method used in
this landslide vulnerability mapping refers to Ministerial Regulation of
Public Works No. 22/PRT/M/2007, with adjustments based on the 2016
Indonesian Disaster Risk Index (RBI) of the National Disaster Management
Agency (BNPB). The weighting was based on two main aspects: natural
physical aspects and human activities. The parameters used included
geology (rocks composing the slope), soil type, land cover (vegetation),
rainfall, slope gradient, population density, and infrastructure. The web based
map processing visualization utilized the QGIS2Web plugin
for webmap creation and was designed using the Bootstrap
framework.
The final result is raster map
classified into three classes of low, medium, and high vulnerability.
Validation was carried out using actual landslide incident data from
2020 2024 per sub-district, and obtained an Overall Accuracy value of
81.63%. The mapping results show that high vulnerability is spread across
the northern, eastern, and northwest regions, especially in the
sub-districts
of Kemalang, Bayat, Juwiring, Karangdowo, Gantiwarno,
and Wonosari with a total area of 2,130.11 ha (3.05%). The
medium vulnerability class dominates the Klaten Regency area
with an area reaching 507,022,847.42 m² or 50,702.28 ha (72.45% of the
total area). Meanwhile, the low vulnerability class covers an area of
17,135.38 ha or around 24.50% of the total area. Kemalang District
has the widest coverage of vulnerability, namely 708.23 ha
(1.01%), followed by Juwiring District 380.79 hectares
(0.54%), Wonosari 244.92 hectares (0.35%), Bayat 297.29
hectares (0.42%), Karangdowo 273.35 hectares (0.39%),
and Gantiwarno 57.35 hectares (0.08%). All processing results are
visualized in the form of a WebGIS-based map, which can be accessed
through the link https://biasrsch03.github.io/RawanLongsor KabupatenKlaten/.
Based on the system usability test, a score of 84.71% was obtained, which
is included in the good category.
Kata Kunci : kerawanan bencana, tanah longsor, webgis