Pemodelan 3D Topografi Dan Sebaran Sedimentasi Dasar Waduk Selorejo Menggunakan Data Multibeam Echosounder
Panji Gumilang, Dr. Ir. Bambang Kun Cahyono, S.T., M.Sc., IPU
2025 | Tugas Akhir | D4 TEKNOLOGI SURVEI DAN PEMETAAN DASAR
Waduk merupakan salah satu infrastruktur
vital yang memiliki peran penting dalam penyediaan air irigasi dan pengendalian
banjir. Agar fungsi tersebut tetap berjalan optimal, diperlukan upaya
pemeliharaan secara berkelanjutan. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah
akumulasi sedimentasi yang berimplikasi pada penurunan kapasitas tampungan
waduk. Kapasitas tampung Waduk Selorejo mengalami penurunan hingga 38% setelah
beroperasi selama 44 tahun. Kondisi tersebut semakin diperburuk dengan belum
adanya kegiatan monitoring sedimentasi secara periodik yang dapat menyajikan
informasi terkini mengenai perubahan topografi dasar waduk. Tujuan utama dari proyek
akhir ini yaitu memberikan informasi mengenai kondisi topografi dasar dan
sedimentasi Waduk Selorejo.
Metodologi
yang digunakan meliputi akuisisi data Multibeam Echosounder (MBES)
yang selanjutnya dikoreksi terhadap georeferensi, pergerakan kapal (roll,
pitch, dan heave), serta kecepatan rambat suara. Proses cleaning
dilakukan menggunakan EC-3D, histogram cleaning, dan manual point
editor untuk menghilangkan noise. Evaluasi kualitas data dilakukan
melalui kalibrasi patch test dan uji akurasi dengan mengacu pada standar
International Hydrographic Organization (IHO) S-44 Edisi 6.2.0 Tahun
2024. Peta batimetri disusun dengan interval kontur 8, 10, dan 15 meter, sementara
pemodelan 3D topografi dasar waduk dibuat menggunakan perangkat lunak
NaviModel. Untuk analisis sebaran sedimen, data backscatter dikonversi
dari nilai digital number menjadi intensitas pantulan (dB), kemudian
diklasifikasikan berdasarkan standar akustik sedimen untuk memetakan distribusi
material dasar seperti tanah liat, lumpur, pasir, kerikil, dan batuan besar.
Hasil
tugas akhir menunjukkan bahwa uji kualitas data menghasilkan nilai standar
deviasi sebesar 0,075 m pada tingkat kepercayaan 95%, dan nilai tersebut masih
berada dalam batas toleransi IHO Orde Khusus. Analisis backscatter
memperlihatkan bahwa sebaran sedimen terbagi secara
spasial, meliputi tanah liat di bagian barat dan selatan, lumpur di wilayah
tengah, pasir di timur laut, serta kerikil dan batuan besar di area tertentu.
Model 3D yang dihasilkan mampu merepresentasikan topografi dasar secara detail,
sedangkan peta batimetri berhasil menggambarkan kedalaman antara 7 hingga 17
meter dengan kontur yang menunjukkan pola morfologi cekungan alami. Peta
tersebut juga menampilkan keberadaan lima objek bawah air berupa endapan padat,
bongkahan batuan, dan sisa struktur buatan manusia. Dengan demikian, model 3D
dan peta batimetri tidak hanya menyajikan visualisasi morfologi dasar secara
akurat, tetapi juga memberikan pemahaman ilmiah mengenai kondisi sedimentasi
yang memengaruhi kapasitas tampung Waduk Selorejo.
Reservoirs are vital infrastructures that play an
important role in providing irrigation water and controlling floods. To ensure
their functions remain optimal, continuous maintenance efforts are required.
However, the main challenge faced is sediment accumulation, which reduces reservoir
storage capacity. The storage capacity of Selorejo Reservoir has decreased by
up to 38?ter 44 years of operation. This condition is further exacerbated by
the absence of periodic sediment monitoring activities that could provide
updated information on changes in reservoir bottom topography. The primary
objective of this final project is to present information on the bottom
topography and sedimentation conditions of Selorejo Reservoir.
The methodology includes data acquisition using a
Multibeam Echosounder (MBES), which was subsequently corrected for
georeferencing, vessel motion (roll, pitch, and heave), and sound velocity.
Data cleaning was carried out using EC-3D, histogram cleaning, and manual point
editor to remove noise. Data quality evaluation was performed through patch
test calibration and accuracy assessment based on the International
Hydrographic Organization (IHO) S-44 Standard, Edition 6.2.0 of 2024.
Bathymetric maps were produced with contour intervals of 8, 10, and 15 meters,
while 3D modeling of the reservoir bottom topography was conducted using
NaviModel software. For sediment distribution analysis, backscatter data were
converted from digital number values into reflection intensity (dB), and then
classified based on acoustic sediment standards to map the distribution of
bottom materials such as clay, silt, sand, gravel, and boulders.
The results of this study indicate that the data
quality test produced a standard deviation of 0.075 m at a 95% confidence
level, which remains within the IHO Special Order tolerance. Backscatter
analysis revealed that sediment distribution is spatially divided, consisting
of clay in the western and southern parts, silt in the central area, sand in
the northeast, and gravel and boulders in certain areas. The generated 3D model
accurately represented the reservoir bottom topography, while the bathymetric
map depicted depths ranging from 7 to 17 meters with contours illustrating the
natural basin morphology. The map also identified five underwater objects, including
solid deposits, rock boulders, and remnants of man-made structures. Thus, the
3D model and bathymetric map not only provide accurate visualizations of the
reservoir bottom morphology but also contribute scientific insights into
sedimentation conditions that affect the storage capacity of Selorejo
Reservoir.
Kata Kunci : Sedimentasi, Batimetri, Multibeam Echosounder, Pemodelan 3D, Waduk Selorejo.?