Laporkan Masalah

Dinamika Kearifan Lokal Subak di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Badung

Dyfany Aurariel Syahda, Dr. Dyah Rahmawati Hizbaron, S.Si., M.T., M.Sc

2025 | Skripsi | GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Sistem subak merupakan kearifan lokal irigasi tradisional Bali yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana (THK) dan telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia. Desa Canggu sebagai kawasan urban yang berkembang pesat menjadi pusat digital nomads global menghadapi tekanan budaya dan ekologi yang signifikan. Interaksi budaya lokal dengan budaya populer global memengaruhi sistem subak melalui perubahan tata guna lahan, kelembagaan, dan praktik pengelolaan. Dinamika sistem subak mencakup manajemen, institusi, otoritas, serta relasi pemangku kepentingan. Lahan, air, dan petani menjadi basis operasional subak, sedangkan pura dan otonomi mencirikan kekhasannya sebagai kearifan lokal Bali. 

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika sistem subak dan pengaruh elemen-elemennya terhadap keberlanjutan subak di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara. Digunakan metode penelitian kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada empat subak yang berada di Desa Canggu: Umalas, Umadesa, Liplip, dan Canggu. Data diperoleh melalui wawancara mendalam kepada informan yang dipilih secara purposive dan dilengkapi dengan data observasi lapangan dan studi dokumen.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa subak di Canggu mengalami dinamika dalam pola tanam, irigasi, kapasitas kelembagaan, otoritas palemahan, dan keterlibatan pemangku kepentingan. Konversi lahan mendominasi di Subak Umalas, Umadesa, dan Liplip, sedangkan kelangkaan air menjadi tantangan utama di Subak Canggu. Jumlah petani, otonomi subak, dan fungsi spiritual pura juga saling terkait. Temuan pada penelitian ini menegaskan bahwa tekanan urbanisasi dan pariwisata memicu transformasi struktural dan fungsional pada subak. Hal tersebut menegaskan pentingnya penguatan regulasi, dukungan kelembagaan, serta perlindungan elemen inti subak guna menjamin keseimbangan ekologi, keberlanjutan budaya, dan ketahanan kelembagaan di tengah tekanan modernisasi.

The subak system is a local wisdom of traditional Balinese irrigation based on the philosophy of Tri Hita Karana (THK) and has been recognized by UNESCO as a World Cultural Heritage. Canggu Village as a rapidly growing urban area to become a global digital nomad center faces significant cultural and ecological pressures. The interaction of local culture with global popular culture influences the subak system through changes in land use, institutions, and management practices. The dynamics of the subak system include management, institutions, authorities, and stakeholder relations. Land, water, and farmers became the operational base of subak, while temples and autonomy characterized its uniqueness as local Balinese wisdom. 

This study aims to analyze the dynamics of the subak system and the influence of its elements on the sustainability of subak in Canggu Village, North Kuta District. A qualitative-descriptive research method was used with a case study approach on four subaks in Canggu Village: Umalas, Umadesa, Liplip, and Canggu. Data was obtained through in-depth interviews with purposively selected informants and complemented by field observation data and document studies.

The results of the study showed that subaks in Canggu experienced dynamics in planting patterns, irrigation, institutional capacity, palemahan authority, and stakeholder involvement. Land conversion dominates in Subak Umalas, Umadesa, and Liplip, while water scarcity is a major challenge in Subak Canggu. The number of farmers, the autonomy of the subak, and the spiritual function of the temple are also interrelated. The findings of this study confirm that the pressure of urbanization and tourism triggers structural and functional transformations in subak. This emphasizes the importance of strengthening regulations, institutional support, and protecting the core elements of subak to ensure ecological balance, cultural sustainability, and institutional resilience amid modernization pressure.

Kata Kunci : Dinamika Budaya, Kearifan Lokal, Subak, Tri Hita Karana

  1. S1-2025-478536-abstract.pdf  
  2. S1-2025-478536-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-478536-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-478536-title.pdf